Mohon tunggu...
Muhammad Nur Missuari
Muhammad Nur Missuari Mohon Tunggu... Freelancer - Freelance

Apa yang ada di kepala, jika tak bisa diceritakan maka ditulis.

Selanjutnya

Tutup

Worklife Pilihan

Pengenalan dan Pengendalian Quarter Life Crisis

21 Juli 2022   15:42 Diperbarui: 21 Juli 2022   15:44 230
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

'Apa yang harus aku lakukan setelah banyak apply pekerjaan di berbagai perusahaan yang sesuai jurusan? Apa harus apply pekerjaan atau internship yang berseberangan dengan jurusanku? Tapi, aku belum punya skill dasar di bidang itu... Beberapa temanku mengambil langkah itu. Tapi aku kok gini-gini aja ya?'.

Beberapa individu di usia 20-an tahun mulai merasakan kegalauan seperti hal diatas, seperti insecure, panik, dan takut akan perjalanan masa depannya apakah itu karier, asmara, ataupun kehidupan sosial. Mungkin mereka memasuki fase quarter life crisis. 

Quarter Life Crisis adalah perasaan khawatir yang hadir atas ketidakpastian kehidupan mendatang seputar relasi, karier, dan kehidupan sosial yang terjadi sekitar usia 20-an (Habibie, dkk, 2019).

Di usia 20-an tahun ini terjadi peralihan remaja menuju dewasa sehingga mengalami perubahan-perubahan di berbagai aspek, seperti mental, spiritual, dan fisik. 

Menurut Fitri (2019), quarter life crisis dapat terjadi karena beberapa alasan, seperti adanya tekanan dari keluarga atau teman sebaya, kekecewaan terhadap suatu hal, frustrasi mengenai pekerjaan dan karier, atau rasa tidak aman terhadap masa depan. 

Fase ini juga dialami oleh seseorang yang sedang menempuh atau menyelesaikan bangku perkuliahan, dimana mereka memiliki respon emosional seperti stress, gelisah, ragu, dan cemas.

Individu yang mengalami fase ini akan perlahan kehilangan kepercayaan diri, hilangnya motivasi hidup, dan cenderung merasa gagal. Hal ini terjadi karena adanya tuntutan akibat ekspektasi orang-orang yang tinggi dan terbebani tanggung jawab yang berat. Sehingga individu tersebut harus menyikapi secara dewasa terhadap suatu permasalahan yang datang. 

Menurut Herawati dan Hidayat (2020), tantangan saat beranjak dewasa yaitu tidak menggantungkan diri lagi pada orang tua dan berdiri sendiri. Respon seseorang pun dalam menyikapi permasalahan dapat dipengaruhi dari faktor sosial budaya, keluarga, dan pertemanan.

Beberapa fase yang dialami individu dalam quarter life crisis menurut Robinson dalam Fitri (2019) yaitu:

  • Fase pertama, merasa kebingungan dalam berbagai macam pilihan dan tidak mampu dalam mengambil keputusan apa yang harus dijalani dalam hidup
  • Fase kedua, memiliki dorongan untuk mengubah situasi
  • Fase ketiga, mengambil tindakan-tindakan yang krusial, misalnya keluar dari pekerjaan dan mencoba mencari pengalaman baru
  • Fase keempat, membangun pendirian diaman bisa mengarahkan tujuan kehidupannya
  • Fase kelima, mulai kehidupan yang baru yang sesuai dengan minat dan nilai-nilai yang dianut

Cara memandang dan menghadapi persoalan mempengaruhi seberapa lama seseorang tersebut melewati fase pertama. Terlalu larut dalam emosional dapat menghambat sesorang dalam mengejar apa yang ia inginkan. 

Lamanya seseorang melewati fase quarter life crisis bisa cepat atau lambat, tergantung cara orang tersebut melewatinya. Setiap orang memiliki caranya masing-masing dalam melewati quarter life crisis. Berikut beberapa cara ini bisa menjadi referensi dalam menghadapi quarter life crisis.

  • Melakukan suatu hal yang menyenangkan dan nyaman

Dalam fase ini tentu emosi sangat terkuras, sehingga perlu untuk merefleksikan diri sejenak yang tentunya membuat diri senang dan nyaman. Melakukan hobi seperti berolahraga, mendengarkan musik, membaca buku, atau travelling untuk melihat pemandangan alam, diharapkan dapat mengurangi stress dan dapat mencapai tujuan yang diinginkan.

  • Bersabar dan jangan membandingkan diri dengan orang lain

Boleh saja melihat kesuksesan seseorang sebagai motivasi, tapi beberapa orang terkadang menjadi insecure dengan kesuksesan seseorang dan kehilangan motivasi. Maka, perlu bersabar dan menikmati proses yang sedang dialami karena jalan cerita hidup orang berbeda-beda. Begitu pula dengan kesuksesan setiap orang. Bukan pasrah, tapi lakukanlah hal yang bisa dilakukan dengan baik.

  • Bersyukur dan berdoa

Segala sesuatu yang manusia lakukan tentu ada campur tangan dari Yang Maha Kuasa. Dengan mensyukuri apa yang dimiliki saat ini dan berdoa akan membuat jiwa tenang dalam menjalani hidup. Sekalipun itu hal kecil patut disyukuri. Karena boleh jadi saat engkau menganggap hal kecil tersebut, orang lain sangat ingin memiliki itu Pada akhirnya, sebanyak apapun manusia berencana Tuhan mempunyai rencana yang terbaik buat umat-Nya.

  • Motivasi

Motivasi bisa diperoleh dimana saja, bisa dari teman nongkrong, film, buku, maupun komunitas. Dengan melakukan kegiatan sosial dan memilih teman nongkrong atau komunitas serta bisa membaur dapat memberikan positive vibes dan meningkatkan jiwa sosial. Sehingga tidak terlarut terus menurus dalam quarter life crisis.

Referensi

Fitri, V. M. 2019. Quarter Life Crisis: Mengatasi Kegalauan Generasi Millenial. https://buletin.k-pin.org/index.php/arsip-artikel/414-quarter-life-crisis-mengatasi-kegalauan-generasi-millenial.

Habibie, A., Syakarofath, N. A., dan Anwar, Zainul. 2019. Peran Religiusitas Terhadap Quarter Life Crisis (QLC) pada Mahasiswa. Gadjah Mada Journal of Psychology vol. 5, No. 2: 129 -- 138.

Afnan, Fauzia, R., dan Tanau, M. U. 2020. Hubungan Efikasi Diri dengan Stress pada Mahasiswa yang Berada dalam Fase Quarter Life Crisis. Jurnal Kognisia, vol. 3, No. 1: 23 -- 29.

 Herawati, Icha dan Hidayat, Ahmad. 2020. Quarter Life Crisis pada Masa Dewasa Awal di Pekanbaru. Journal An-Nafs: Kajian Penelitian Psikologi vol. 5, No.2: 145 -- 156.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun