Hari Polisi atau dikenal juga dengan Hari Bhayangkara 1 Juli mengingatkan kita pada figur legendaris Hoegeng Imam Santoso, Kapolri ke-5 RI yang menjabat pada tahun 1968-1971.Â
Mengapa Hoegeng menjadi figur legendaris yang bukan hanya dibanggakan oleh anggota kepolisian tetapi juga bagi warga negara Indonesia? Jawaban sederhananya adalah Hoegeng begitu mencintai tugasnya sebagai seorang Polisi.Â
Riwayat lengkap Hoegeng dapat dibaca dalam Hoegeng: Polisi Idaman dan Kenyataan (sebuah Autobiografi) yang ditulis oleh Abrar Yusra dan Ramadhan KH. Kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan Hoegeng menunjukkan bahwa polisi adalah sosok yang bekerja 24 jam sebagai pelindung, pengayom dan pelayan masyarakat. Kebiasaan-kebiasaan baik yang dilakukan Hoegeng sehari-hari menjadi catatan sejarah yang bermakna.
Dalam bekerja Hoegeng setiap pagi sudah meninggalkan rumah, menuju kantor dan biasanya lebih cepat tiba di kantor dibandingkan staf dan bawahannya. Di sini nampak keteladan menjadi penting bagi pribadi pemimpin apalagi pemimpin tertinggi POLRI.Â
Kebiasan datang tepat waktu bahkan lebih cepat ke tempat tugas, nampaknya mudah dan sederhana. Pada kenyataannya ini adalah langkah awal yang sangat penting bagi terbentuknya disiplin pribadi dan sosial. Di era milineal ini disiplin tetap menjadi kebiasaan yang penting bagi suksesnya sebuah organisasi.
Setiap pagi, Hoegeng menempuh rute jalan yang berbeda ke kantor untuk mengetahui gambaran situasi kehidupan yang berbeda dan kian lama kian lengkap. Dengan begitu bisa sekalian untuk melakukan inspeksi tidak langsung yang berkaitan dengan tugas kepolisian. Hoegeng bukan hanya tahu kondisi jalan raya, kepadatan lalu lintas, tetapi juga kesiagaan polisi lalu lintas.Â
Dalam situasi seperti ini, tak jarang lahir gagasan atau program-program praktis yang dapat diterapkan di lapangan. Pemimpin futuristik tidak saja menunggu laporan dari staf tapi harus mendapatkan informasi dari lapisan bawah, sehingga memiliki data akurat untuk menjalankan dan mengevaluasi program-program ke depan.
Di sore hari, Hoegeng pulang dari kantor lebih lambat dari staf dan bawahannya. Ada pengecualian misalnya menghadiri sidang-sidang kabinet dan upacara-upacara kenegaraan.Â
Pada hari-hari besar tertentu seperti peringatan Hari Kemerdekaan, malam idul fitri, Natal dan Tahun Baru, Hoegeng bersama pucuk-pucuk pimpinan Polri turun ke lapangan, ke jalan-jalan raya dan pusat-pusat keramaian. Ketaatan pada jam kerja menjadi penting karena itu menunjukkan seseorang betah berada di tempatnya bekerja, tidak sekedar nongkrong-nongkrong tetapi bekerja secara produktif.
Hoegeng ingin menunjukkan kesan bahwa kepolisian sadar akan tanggung jawabnya kepada masyarakat untuk memelihara ketertiban dan keamanan umum. Bahwa Polri memberikan pelayanan ekstra untuk menunjang kegiatan-kegiatan yang melibatkan massa pada tempatnya, yang menunjukkan Polri memiliki komitmen kuat terhadap kepentingan dan perasaan masyarakatnya, masyarakat Indonesia.Â
Kebiasaan ini dapat menjadi sumber refleksi bagi anggota Polisi saat ini, apakah komitmen yang dipegang teguh Hoegeng masih dipegang Polisi saat ini?
Bagi Hoegeng, pada dasarnya seorang Polisi adalah pelayan masyarakat untuk menegakkan ketertiban dan keamanan umum setiap saat dan di mana pun berada. Apalagi kalau sedang mengenakan seragam polisi maka kewajiban resminya itu menjadi konkret di tengah-tengah masyarakat, yang mana masyarakat berhak menuntut ketertiban dan ketentraman.Â
Dengan demikian masyarakat dapat menempatkan Polisi sebagai Polisi. Kalau perlu, masyarakat baru bisa membedakan kedudukan  di jalan mengurangi hakikat dan citra polisi secara keseluruhan. Polisi adalah polisi, itulah makna kedudukan dan perannya di masyarakat.Â
Dalam posisi sosial demikian menurut Hoegeng maka seorang Agen Polisi sama saja dengan seorang Jenderal Polisi. Tentu saja yang terakhir memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang lebih besar.Â
Hakikat Polisi yang demikianlah yang membuat Hoegeng mencintai tugas kepolisian dan bangga menjadi seorang Polisi, tanpa membedakan kedudukan dan pangkat.Â
Hoegeng tidak pernah merasa malu turun tangan mengambil alih tugas teknis seorang Agen Polisi yang kebetulan tidak ada atau tidak di tempat. Misalnya jika di suatu perempatan jalan terjadi kemacetan lalu lintas maka kadangkala dengan baju dinas Kapolri Hoegeng akan menjalankan tugas seorang Polisi lalu lintas di jalan raya.Â
Pekerjaan itu dilakukan dengan ikhlas sekaligus memberikan teladan tentang motivasi dan kecintaan Polisi akan tugasnya, sekaligus memberikan teguran dan peringatan secara halus kepada bawahan yang lalai atau malas. Kebiasaan ini sebenarnya hal sangat ditungu oleh masyarakat.Â
Di tengah hiruk pikuk lalu lintas yang pada merayap, bila ada polisi yang bertugas, masyarakat akan tersenyum di pagi hari. Lalu lintas lancar masyarakat dapat bekerja secara produktif.
Kehadiran seorang atau sejumlah Polisi menurut Hoegeng justru mendatangkan rasa tenteram pada masyarakat sekitar. Bukan rasa takut, sebab Polisi bukan momok bagi masyarakatnya. Malah sebaliknya, hanya penjahat atau orang yang bermaksud jahat yang takut dan was-was terhadap kehadiran Polisi. Hoegeng berkeinginan memulai menegakkan citra ideal seorang Polisi dari dirinya sendiri.Â
Berbarengan dengan itu, ia menampilkan pula citra seorang Komandan Polisi yang baik. Setidaknya ada dua citra yang harus ditegakkan pimpinan Kepolisian secara simultan yaitu citra diri sebagai Polisi terhadap dirinya sendiri dan kehormatannya yang berkaitan dengan citra sosial Polri sesuai dengan hakikat sosial dirinya di tengah masyarakat Indonesia dan masyarkat dunia.
Hoegeng menolak hak atas sejumlah pengawal dan gardu jaga di rumah. Alasannya adalah bahwa rumah seorang Polisi adalah tempat mengadu masyarakat. Maka rumah Polisi tidak boleh terkesan angker, atau membuat risi (segan) orang yang ingin datang.Â
Bagi Hoegeng rumahnya sewaktu-waktu bisa menjadi rumah komando dari seorang komandan. Karena urusan kepolisian bisa timbul dalam 24 jam sehari.Â
Akhirnya rumah Hoegeng juga memiliki sebuah kamar radio yang berisi alat-alat komunikasi yang memungkinkan berhubungan setiap saat, baik melakukan monitoring, maupun untuk menerima info dan menyampaikan perintah dengan stap pimpinan kepolisian lainnya.
Narasi di atas penting untuk kita renungkan. Tidak saja oleh Polisi tetapi juga seluruh masyarakat Indonesia. Polisi yang memiliki kecintaan dan komiten terhadap tugasnya didukung oleh masyarakat yang taat hukum akan mampu mewujudkan tema Peringatan Hari Bhayangkara tahun 2020 yaitu: "Ketertiban Kondusif Masyarakat semakin Produktif". Dirgahayu Polisi Republik Indonesia!
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI