Mohon tunggu...
Misbahul Ulum
Misbahul Ulum Mohon Tunggu... Freelancer - Penulis Amatir

Juru ketik, anak petani tulen, mantan karyawan negara.

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Pilihan

Serba Tetangga

4 Desember 2014   16:28 Diperbarui: 17 Juni 2015   16:04 21
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
14176604281125679856

Karena alasan itulah, akhirnya kami resmi bubar. Tapi sebelum bubar, kami menyempatkan diri untuk menggelar ritual perpisahan, ritualnya berupa apa? Itu rahasia kami berdua (silahkan panjenengan menerka-nerka sendiri). Setelah ritual selesai kami saling memberikan kenang-kenangan, saya memberikan sebuah buku harian dengan harapan ia menumpahkan keluh kesahnya dalam buku itu, dan Ia memberikan sebuah sarung yang entah apa tujuannya. Analisis standar saya berpendapat bahwa dengan sarung itu saya akan kelihatan makin “kece” kalau sedang adzan di mushola, karena memang kebetulan saya suka menjadi tukang adzan.

Sebenarnya, dalam praktik kehidupan masyarakat jawa, khususnya Rembang dan sekitarnya, sarung memiliki banyak fungsi. Kadang dijadikan topeng oleh para maling, kadang dijadikan wadah pengganti karung, dan yang paling banyak dijadikan sebagai kemul atau selimut.

****

Kini sudah hampir 6 tahun kami berpisah. Semenjak saya putus, saya memilih kabur ke Semarang lalu lanjut ke Jakarta, sesekali setiap saya pulang ke kampung halaman, suasana tempo doeloe masih ada. Sarung pemberian sang mantan pujaan hati juga masih saya simpan dengan baik, meski kadang hanya saya pakai untuk “kemul”.

Belakangan memori saya kembali dipaksa untuk mengingat roman masa lalu yang indah itu. Lagi-lagi band Repvblik yang jadi biang keroknya. Lagu dengan judul “selimut tetangga” memaksa saya untuk mengingat Nana yang dulu pernah duduk manis di hati saya. Setidaknya lagu itu menyadarkan saya bahwa Nana saat ini adalah tetangga saya, tidak lebih. Sarung yang diberikan kepada saya juga tidak tidak lebih dari “sarung tetangga” saja, yang kadang-kadang berfungsi sebagai “selimut tetangga” (selimut pemberian tetangga).

Ah, sudahlah tidak perlu diperpanjang. Masa lalu adalah masa lalu, masa depan adalah masa depan. Mau diingat sedalam apapaun tetap sama, Ia adalah tetangga saya.

“Hari tak pernah bisa kembali, tapi pagi selalu menawarkan cerita baru” (Copas AADC 2014).

*ditulis oleh Misbahul Ulum, Penulis Partikelir yang bermimpi punya istri sholehah

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun