Mohon tunggu...
Mim Yudiarto
Mim Yudiarto Mohon Tunggu... Buruh - buruh proletar

Aku hanyalah ludah dari lidah yang bersumpah tak akan berserah pada kalah....

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

[Luka] Prolet karena Berani Mencintai Tuan Putri

10 November 2018   10:01 Diperbarui: 10 November 2018   10:21 283
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

"Kamu gila ya! Ayo masuk! Tuan Putri dan hukuman sudah menunggumu!" rutuk Bos Kecil bertubi-tubi. Mengikuti Prolet dari belakang.

Prolet duduk dengan manis di hadapan meja Tuan Putri. Bersiap menerima yang paling pahit. Raut muka Tuan Putri sedang mendung. Terlihat begitu murung. Prolet berharap yang turun adalah hujan. Bukan geledek. Prolet membuang mukanya ke samping. Pura-pura batuk. Menyembunyikan cengirannya yang tak bisa ditahan. Apalagi kalau teringat dia tadi telah mengetuk jidat keajaiban dunia ke-13. Hihi.

"Kenapa cengar-cengir gak karuan! Ini serius!" Duh ketahuan juga. Prolet memasang sikap terkejut. Kaget dan terpana. Bagi Prolet yang terpenting dia tidak harus bicara. Pastilah akan gagap sempurna.

"Aku mendapat informasi kalau kamu menjalin hubungan kasih dengan seseorang di kantor. Ini tidak sehat bagi perusahaan. Tidak produktif! Mulai hari ini aku akan mengeluarkan memo tentang larangan berhubungan cinta antara staf sekantor,"

Prolet pucat pasi. Tuduhan Tuan Putri ini bukan main-main. Tapi kenapa dia yang dituduh? Dengan siapa dia berhubungan cinta atau kelihatan berpacaran?? Prolet mengingat-ingat. Takut lupa.

Seraut wajah melintas cepat di benak Prolet. Seperti lintasan iklan pendek yang tidak disukainya. Ah, ini pasti gosip dari Sahwat. Siapa lagi? Awas kau nanti ya!

Bos Kecil berpamitan kepada Tuan Putri. Ada rapat di luar yang harus dihadirinya. Tuan Putri mengangguk. Dia tadi memerlukan Bos Kecil untuk menjadi saksi. Menghilangkan gosip besar yang selama ini melintir di kantor bahwa dia menganak emaskan Prolet.

Setelah Bos Kecil keluar, Tuan Putri duduk lemas di kursi. Prolet masih termangu di depannya. Kelihatan bingung dan bertanya-tanya.

Situasi di ruang kantor Tuan Putri sehening kuburan saat tengah malam Jumat Kliwon. Prolet bingung harus bicara apa. Mau menyanggah tuduhan jelas dia akan tergagap-gagap. Mau mengiyakan, bisa jadi malah super gagap. Duh repot.

Tuan Putri merusak keheningan.

"Apa benar gosip itu Prolet? Kamu sedang dekat dengan kasir baru itu? Siapa namanya?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun