Tetapi, pada kenyataan keseharian, seringkali kita sebagai manusia justru "terpaksa", "dipaksa" dan "memaksa" diri untuk belajar. Motifnya pun beragam.
Pertama, karena terdesak atau terhimpit oleh keadaan. Seseorang, dengan kondisi membawa bayi, tidak ada orang di rumah, tidak ada kendaraan selain roda empat, dan harus menuju suatu tempat pada jam yang telah ditentukan.Â
Dengan hanya bermodal kemampuan membawa motor, pada akhirnya memaksakan diri untuk membawa mobil. Tentunya, hal demikian bagian dari spekulasi. Tapi apa hendak dikata? Keadaan darurat menumbuhkan jiwa untuk belajar. Apapun tantangannya. Apapun resikonya.
Kedua, karena sebuah gengsi atau harga diri. Pernah seorang polisi pada awal berdinas, menghadapi kondisi di mana sang atasan memintanya menyupir. Padahal posisinya saat itu hanya sedang memarkirkan saja. Bukan berarti mampu atau mahir.Â
Cukup dilema, sebetulnya. Di satu sisi, dirinya tak kuasa menolak. Selain malu terhadap pimpinan kalau sampai tak berkhidmat memenuhi perintah, juga memang sebagai bentuk menjaga harga diri alias menjaga gengsi.
Ketiga, karena telah tak berkenan lagi menjadi seorang yang lemah alias selalu meminta bantuan. Ini pengalaman saya pribadi. Di satu sisi, saya harus berjibaku dengan laptop. Dari sesederhana mengoperasikan Microsoft word dengan segala printilannya hingga berinovasi Microsoft power point untuk segala kebutuhan.
Dalam prosesnya, hal demikian tentu tak sederhana. Untuk beberapa hal, tentunya saya butuh bantuan. Bahkan seteknis mengoperasikan dan membagikan link google drive, awalnya dihadapi dengan berkerut kening.Â
Namun saya memilih serba belajar sendiri hanya karena "enggan" jika harus berulang meminta tolong. Terlebih saat yang dimintai tolong kurang kondusif untuk disela waktunya. Singkat cerita, "Minta tolong itu pediiiiiiih, jendral".
Bismillaahitawakkaltu 'alallah.
Teori-teori yang ada, hakikatnya adalah sebuah pemahaman untuk kita berpijak dan sebuah kekayaan untuk kita berinovasi dan berpikiran terbuka. Berbagai penyesuaian, itu adalah sebuah "skill" tersendiri untuk lakukan sebagai saran bertahan hidup.
Adapun kembali pada modalitas belajar. Setiap kita sejatinya adalah pembelajar. Dan bukan orang yang belajar dengan konteks semata-mata untuk memenuhi perintah. Kita semua adalah pelaku belajar. Pembelajar sepanjang hayat.Â