Salah satu inisiatif utama Bank DKI adalah penyediaan dana untuk pembiayaan infrastruktur kota, seperti transportasi publik, pembangunan gedung, dan fasilitas umum lainnya. Bank DKI juga memiliki keunggulan dalam menyediakan produk pembiayaan untuk sektor publik dan swasta di daerah Jakarta, serta membantu pemerintah daerah dalam hal pengelolaan keuangan.
Selain itu, Bank DKI terus memperkuat kapabilitas digitalnya, termasuk pengembangan aplikasi mobile banking yang memungkinkan masyarakat Jakarta mengakses layanan keuangan dengan mudah.
Bank DKI juga mengembangkan kemitraan dengan pemerintah dan sektor swasta untuk memperluas jaringan bisnis dan meningkatkan peranannya dalam pembiayaan pembangunan daerah.
Transformasi Melalui Konsolidasi
Bank Pembangunan Daerah (BPD) tengah berada di persimpangan penting dalam sejarahnya. Kebijakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tentang pemenuhan modal inti minimum sebesar Rp3 triliun telah memacu banyak BPD untuk melakukan konsolidasi melalui Kelompok Usaha Bank (KUB). Strategi ini menjadi jalan keluar untuk memperkuat permodalan, meningkatkan efisiensi operasional, dan memperluas jangkauan layanan.
Di tengah dinamika ini, tiga BPD mencuri perhatian: Bank BJB (BJBR), Bank Jatim (BJTM), dan Bank DKI. Ketiganya aktif menjalin kolaborasi dengan bank-bank daerah lain sebagai bagian dari upaya memperkuat posisi mereka di pasar.
Konsolidasi melalui KUB memungkinkan bank-bank ini untuk meningkatkan kekuatan modal, memperluas jaringan cabang, dan merambah pasar yang lebih luas. Hal ini juga menjadi langkah strategis dalam memperbaiki efisiensi operasional dan menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh persaingan yang semakin ketat di sektor perbankan.
Perbandingan Kinerja Saham Bank BJB (BJBR) dan Bank Jatim (BJTM)
Selain dari sisi transformasi digital dan pengelolaan risiko, kinerja saham kedua bank ini di pasar modal juga memberikan gambaran mengenai bagaimana investor memandang prospek masing-masing bank. Bank BJB (BJBR) telah menunjukkan performa yang cukup menggembirakan di pasar saham dalam beberapa tahun terakhir.
Dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp9,943 triliun, saham Bank BJB terus mencatatkan pertumbuhan yang stabil meski sempat menghadapi tantangan dalam beberapa periode.
Dalam hal pertumbuhan pendapatan tahunan (CAGR), Bank BJB menunjukkan angka yang lebih tinggi, yang menggambarkan optimisme pasar terhadap strategi ekspansi dan inovasi yang mereka lakukan. Meski demikian, laba bersihnya mengalami fluktuasi pada beberapa tahun terakhir, yang turut mempengaruhi kinerja saham dalam jangka pendek.
Di sisi lain, Bank Jatim (BJTM) dengan kapitalisasi pasar Rp8,183 triliun, lebih menonjol dari sisi stabilitas harga sahamnya. Selama lebih dari 10 tahun terakhir, saham Bank Jatim menunjukkan kinerja yang konsisten dan cenderung lebih stabil meski menghadapi tekanan ekonomi global.
Hal ini sejalan dengan reputasi Bank Jatim sebagai bank yang lebih konservatif dalam pengelolaan aset dan risiko, memberikan rasa aman bagi investor yang mencari kestabilan jangka panjang. Di pasar saham, Bank Jatim terlihat lebih menarik bagi investor yang fokus pada nilai dan kestabilan investasi dalam jangka panjang.
Secara keseluruhan, kinerja saham Bank BJB (BJBR) lebih agresif dan mencatatkan pertumbuhan yang signifikan, seiring dengan keberanian dalam ekspansi dan inovasi produk. Bank Jatim (BJTM), meskipun lebih konservatif dalam strategi, tetap mempertahankan kinerja yang stabil, menawarkan nilai lebih bagi investor yang mencari keamanan dalam berinvestasi.