Melihat pengalaman pendidikan di Jepang dan beberapa negara maju lainnya, di mana pendidikan moral dan nilai-nilai diberikan perhatian yang serius, dapat menjadi contoh yang baik untuk diadopsi di Indonesia.
Di negara-negara ini, pendidikan moral dan adab diajarkan secara terstruktur dan terintegrasi dalam kurikulum, sehingga siswa memiliki kesempatan untuk mengembangkan baik pengetahuan akademik maupun karakter moral mereka.
Dalam konteks pendidikan Islam, mengajarkan adab sejak dini dan mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari juga merupakan praktik yang baik. Meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW adalah prinsip yang penting dalam pendidikan Islam, yang melibatkan pemahaman, penghargaan, dan peniruan akhlak yang mulia.
Penting bagi sistem pendidikan di Indonesia untuk memberikan perhatian yang lebih besar pada pembangunan moral dan pengajaran adab, seiring dengan pengajaran ilmu pengetahuan.
Hal ini dapat dilakukan dengan memperkuat peran guru sebagai pendidik yang memperhatikan perkembangan moral siswa, mengintegrasikan nilai-nilai moral dalam kurikulum, dan melibatkan orang tua dan masyarakat dalam mendukung pendidikan moral.
Dengan demikian, meskipun pengajar dapat digantikan oleh Generative AI, tetapi pendidik tidak dapat digantikan oleh Generative AI. Meskipun AI telah mengalami kemajuan pesat dalam beberapa tahun terakhir, masih ada peran yang penting bagi guru dan pendidik dalam pendidikan.
Akhirnya, bagaimana kesadaran para guru untuk mengantisipasi kondisi di era kecerdasan buatan saat ini agar tetap berperan dalam dunia pendidikan yang tidak akan tergantikan oleh Generative AI saat ini.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H