Kekuatan kata-kata yang merusak terletak pada kekuatan emosional dan psikologis yang mereka bawa. Kata-kata yang kasar, menghina, atau merendahkan dapat menciptakan luka yang mendalam dan meninggalkan trauma emosional. Meskipun seseorang mencoba untuk memaafkan dan melupakan, bekas luka tersebut mungkin masih ada dalam ingatan dan pengalaman mereka.
Penting untuk menyadari bahwa kata-kata memiliki dampak jangka panjang pada orang lain. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk berbicara dengan penuh perhatian, empati, dan pengertian terhadap perasaan orang lain. Berpikir dua kali sebelum mengucapkan kata-kata yang bisa menyakitkan dapat mencegah timbulnya luka emosional yang tidak perlu.
Jika kita menyadari bahwa kita telah menyakiti hati seseorang dengan kata-kata kita, penting untuk bertanggung jawab atas tindakan kita. Minta maaf dengan tulus, tunjukkan penyesalan, dan berkomitmen untuk belajar dari kesalahan tersebut.
Meskipun bekas luka mungkin tidak sepenuhnya hilang, memberikan pengakuan, permintaan maaf, dan upaya untuk melakukan perbaikan dapat membantu memulihkan hubungan yang rusak.
Saat kita menyadari kekuatan kata-kata, kita dapat belajar untuk menggunakan kata-kata kita dengan bijaksana, berempati, dan penuh kasih sayang. Dalam hal ini, kita dapat meminimalkan risiko menyakiti hati orang lain dan membangun komunikasi yang lebih baik dan bermakna dengan mereka.
Sebagai penutup, marilah kita menjaga lisan dan ucapan kita, jangan sampai menyakiti hati orang lain. Dan, perlu pula diingat sekarang lisan bukan hanya yang terucap dari bibir saja, tetapi juga dar jari-jemari kita ketika menekan tuts gawai dan laptop yang menghasilkan banyak kata-kata yang tidak jarang menyakiti hati orang lain.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H