"Tahun baru Islam kok sepi banget sih? Kayak enggak ada perhatian dari umat Islam nih!"
Selentingan kalimat itu pernah saya dengar. Awalnya saya pikir harus menyahut ucapan itu dengan cepat, tetapi saya menghentikannya.
Hei, kamu yang di sana! Tahu enggak sih kalau hijrah itu berkaitan sekali dengan peristiwa hijrahnya rosulullah saw. bersama pengikutnya dari Mekkah ke Madinah karena ancaman keselamatan umat Islam semakin keras di Mekkah. Dalam peristiwa itu, pengorbanan, ketaatan, dan keikhlasan para pengikut beliau diuji.
Tahun Baru Tidak Harus Dirayakan
Ada satu tradisi yang sering melintasi beranda media sosial saya saat 1 Muharram, yaitu pagelaran budaya malam 1 suro atau tradisi di Bromo. Di beberapa daerah pun ada melakukan tradisi 1 Muharram. Bahkan banyak pengajian yang digelar untuk memperingati hari besar keislaman ini. Namun, apakah semua itu sesuai dengan tuntunan Islam?
Dalam Islam, dianjurkan berpuasa di bulan Muharram, seperti hadits dari Abu Hurairah ra, ia berkata: '
"Rasulullah saw bersabda: 'Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, Muharram, dan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam."
(HR Muslim).
Selain berpuasa di bulan Muharram, kita bisa bertafakur atau merenungi setiap peristiwa yang terjadi selama setahun ini. Apakah diri kita sudah berhijrah menjadi pribadi yang lebih baik? Jika belum merasa baik, kira-kira hal apakah yang harus kita benahi?
Berhijrah, Berbenah Diri
Pribadi yang baik adalah pribadi yang tahu dan sadar dengan apa yang dilakukannya. Dia berusaha menjadi pribadi yang terus melakukan perubahan ke arah kebaikan. Pribadi seperti itu tidak harus berbenah pada salah satu atau beberapa bulan saja.
Berhijrah juga butuh persiapan, seperti halnya rosulullah saw. yang berhijrah dari Mekkah ke Madinah memerlukan persiapan. Mulai dari perlengkapan yang akan digunakan selama di sana. Itu pun yang seharusnya kita lakukan dalam berhijrah, yaitu menyiapkan perlengkapan agar diri kita tidak berhenti di tengah jalan. Kita pun butuh ilmu agar tidak oleng jika nanti ada halangan di depan mata.
Hijrah pun tidak harus menunggu disuruh atau banyak orang melakukannya. Saat diri seseorang merasa keburukan akan menimpa dirinya, bergegaslah untuk berhijrah. Selamatkan jiwa dan keimanan terhadap kerusakan yang akan timbul.
Jangan Ikut-ikutan
Berhijrah itu bukan lantaran teman. Berhijrah itu berasal dari hati sehingga ketika berproses, tidak ada penyesalan di hati. Berhijrah itu berusaha menjaga keimanan sehingga apa pun bentuk yang akan melemahkan keimanan kita, sebaiknya dibuang.
Seorang yang berani hijrah dalam keterbatasan adalah bentuk kebesaran jiwa dan kekuatan hati. Dia memiliki ilmu, bukan serampangan melakukan hijrah itu. Dia telah memilikirkan sebelum bertindak sehingga sanggup menanggung apa pun yang akan datang di kemudian hari.
Jika ada perayaan tahun baru hijriah di daerahmu  yang mengandung perbuatan yang tidak dicontohkan oleh nabi saw., sebaiknya ditinggalkan. Tidak ada alasan bagi kita untuk melakukannya apalagi bila di dalam perayaan itu terdapat kemaksiatan, seperti pengrusakan, pemubaziran, dan pengkultusan.
Sebaiknya Lakukan Ini
Daripada dan daripada melakukan perbuatan yang jauh dari ajaran rosulullah saw., Â mending dalam setiap tahunnya kita berusaha melakukan ajaran beliau meskipun berpuasa 1 hari. Berdiam sejenak merenungi 'prestasi' setahun kita.
Mungkin kita bisa membuat suatu hal yang mengingatkan diri sendiri dan orang-orang di sekitar bahwa kita harus terus berbenah. Berbenah dalam banyak hal, seperti berbenah dalam hal bergaul, belajar, atau berpikir. Apapun yang akan kamu lakukan di bulan Muharram ini lakukan semata karena Allah swt.
#resolusihijrahmu
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H