"Dok, saya takut kalau minum obat ini terus menerus dapat merusak ginjal."
Dokter yang di praktek pasti sering mendengar argumen ini. Ini adalah fakta yang berkembang di masyarakat bahwa jika minum obat rutin setiap hari akan menyebabkan kerusakan ginjal. Apapun jenis obat tersebut. Padahal tidak semua obat memiliki potensi untuk merusak ginjal atau yang disebut dengan nefrotoksik.
Berikut penulis akan sedikit menyampaikan obat-obat yang berpotensi menginduksi atau merusak ginjal 'bila' dikonsumsi berlebihan atau tidak sesuai petunjuk dokter.
- Merusak Sel Epitel Tubulus: Neomisin, Streptomisin, Gentamisin, Tobramisin, Cisplatin/Carboplatin, Amfoterisin B, media kontras radiografi,
- Potensi Gangguan Ginjal secara Hemodinamik: penghambat Angiotensin Converting Enzym (ACE), Antagonis reseptor angitensin IIÂ (ARB), obat anti inflamasi non steroid,
- Nefropati obstruktif/hambatan: asiklovir, sulfadiazin, metotreksat, triamteren, indinavir,
- Penyakit Tubulointerstisial: penisilin, siprofloksasin, omeprazol, furosemid, siklosporin, lithium,
- Penyakit Glomerular: emas, obat anti inflamasi non steroid, pamuidronat.
Namun yang patut diingat, obat tersebut hanya punya potensi merusak. Jadi bukan langsung merusak. Penting sekali memakai obat tersebut atas indikasi dan resep dokter, menggunakan sesuai instruksi. Penggunaan menyalahi aturan yang ditetapkan itulah yang menyebabkan kerusakan ginjal.
3. Manusia Masih Dapat Hidup Normal dengan Satu Ginjal
 [caption caption="Ilustrasi: orang yang hidup dengan satu ginjal (Sumber: catatancerdas.com)"]
"Orang yang hidup dengan satu ginjal yang sehat sama dengan orang yang hidup dengan dua ginjal. Kualitas hidupnya akan sama," kata dr Tunggul D Situmorang, SpPD-KGH, dokter ahli ginjal yang bekerja di MRCCC Siloam.
Gaya hidup yang sehat tentu sangat dibutuhkan oleh orang-orang yang sudah kehilangan satu ginjal, baik karena rusak maupun didonorkan karena jika ginjal yang tersisa juga rusak maka sudah tidak ada cadangan lagi. Karena itu, pencegahan adalah langkah paling bijak.
Untungnya, mencegah kerusakan ginjal pada orang-orang yang hanya memiliki satu ginjal tidak sesulit yang dbayangkan. Cukup dengan menjalani pola hidup sehat, maka dengan sendirinya orang tersebut sudah melakukan upaya untuk mencegah kerusakan ginjal.
Dalam ulasan di Kompasiana yang ditulis oleh Al Widya berjudul "Tetap Bahagia Hidup dengan Satu Ginjal" sudah lengkap penjelasan dan testimoni bagaimana orang yang hidup dengan satu ginjal.
Namun seseorang yang hidup dengan satu ginjal perlu medical check up lebih sering. Selain itu perlu dilakukan tes laboratorium analisi urin dan pengukuran tekanan darah tiap tahun, sedangkan fungsi ginjal diperiksa tiap beberapa tahun. Ada indikasi bahwa orang yang pada usia dewasa mendonasikan salah satu ginjalnya untuk transplantasi bisa memiliki tekanan darah yang sedikit tinggi dan peningkatan protein dalam urin dalam jumlah sedikit 10–15 tahun setelahnya.