"How does the vicar know that Mum's in heaven?"
Pertanyaan itu dilontarkan oleh tokoh utama kita, Albie Bright, pada ayahnya seusai upacara kematian ibunya. Tahu apa jawaban ayahnya? Ayah Albie kemudian menjelaskan tentang dunia paralel dan teori kuantum fisika. Betapa, ya...
Buku The Many Worlds of Albie Bright ini mengingatkanku pada sebuah cerpen berjudul Ibu Pergi Ke Laut karya Puthut EA. Kedua cerita ini sama-sama ditulis dari sudut pandang seorang anak yang kehilangan ibunya. Bedanya, Dalam novel The Many World of Albie Bright ayahnya mengatakan bahwa betul di dunia ini ibunya sudah meninggal. Namun ibu Albie mungkin masih hidup di 'dunia lain'.Â
Sedangkan Sang Ayah dalam cerpen Ibu Pergi Ke Laut mengatakan bahwa ibu Dinda (tokoh utama dalam cerpen Ibu Pergi Ke Laut) pergi ke laut padahal ibunya meninggal karena menjadi korban bencana tsunami.
Persamaan dari kedua cerita itu adalah, Si Tokoh Utama berusaha untuk bisa menghubungi ibunya. Dinda berusaha mengirim surat untuk ibunya dengan membuat kapal-kapalan di sungai sedangkan Albie berusaha untuk mencari ibunya di dunia paralel dengan komputer ibunya.Petualangan Albie jelas lebih panjang. Karenanya ceritanya tertuang dalam sebuah novel. Bukan cerpen.
Dilihat dari covernya yang menarik, hurufnya yang dicetak cukup besar, dan ilustrasi yang menyenangkan, nampaknya The Many World of Albie Bright adalah cerita untuk anak-anak. Mungkin anak-anak SMP gitu kali ya?
Bagiku, manusia Indonesia, buku ini terlalu berat untuk anak-anak di bawah 10 tahun. Selain karena teori kuantum fisikanya, buku ini mengajarkan tentang penerimaan terhadap kehilangan. Aku tahu, anak-anak kecil pun bisa merasa kehilangan.Â
Bahkan, mereka bisa lebih jujur dan lebih berani dalam mengekspresikannya. Seperti Albie dan Dinda. Namun untuk teori-teori memahami kesedihan, sepertinya tetap terlalu berat.
Dalam buku The Many World of Albie Bright, pembaca diperkenalkan dengan tahapan-tahapan kesedihan akan kehilangan seseorang. Tahapan tersebut adalah penolakan (denial), marah, berkompromi (bargaining), depresi, dan menerima (acceptance). Albie mengidentifikasikan di tahapan mana dia, kakeknya, dan ayahnya berada. Ini materi yang berat aku rasa. Bahkan orang dewasa pun belum tentu bisa menerimanya.
Di kolom ulasan goodreads.com, orang-orang menyarankan buku ini untuk anak-anak usia 6 -- 12 tahun. Mereka menganggap ini bacaan berat hanya karena ada pelajaran kuantum fisika di dalamnya.Â
Selebihnya, mereka menganggap buku ini layak dibaca oleh anak-anak kecil karena anak-anak pun bisa merasa sedih. Tampaknya, pengenalan emosi-emosi 'gelap' seperti kesedihan dan kemarahan di negara-negara berbahasa Inggris diperkenalkan pada anak-anak di usia yang sangat muda.
Berbeda dengan di Indonesia yang sering menganggap sepele anak-anak. Orang dewasa sering kali menyederhanakan persoalan pada anak kecil dan berusaha untuk tidak menguak kesedihan anak-anak. Contohnya dalam kisah Ibu Pergi Ke Laut.
Aku suka kisah Ibu Pergi Ke Laut. Jangan salah sangka. Cerpen itu sangat menyentuh dan aku yakin di beberapa kejadian cerita itu terjadi nyata. Cerpen itu cerminan dari masyarakat kita bagaimana kita mengungkapkan kematian orang terdekat pada anak-anak.Â
Dengan mengatakan bahwa ibu pergi ke laut dan tidak akan kembali. Orang-orang di sekeliling Sang Anak sering menangis dan merasa kasihan pada Sang Anak tanpa Sang Anak tahu apa yang terjadi. Orang dewasa Indonesia selalu menggunakan jurus, "nanti kamu juga akan mengerti."
Di Cerita The Many Worlds of Albie Bright kita bisa melihat bahwa sang anak mengerti kalau ibunya meninggal dunia dan tidak akan pernah kembali. Albie sadar kalau ayahnya menyangkal kematian ibunya dan bersikap semuanya baik-baik saja padahal Albie butuh pertolongannya.Â
Albie sadar bila kakeknya marah dengan kematian ibunya dan menyalahkan tempat kerja ibunya. Albie sadar bahwa guru dan teman-temannya menganggap dia amat sangat sedih sehingga semua orang bersikap baik padanya. Sedangkan perasaan Albie sendiri.... Baca bukunya langsung aja, yah. Hehehe
Aku sadar, sih. Nggak pas membandingkan cerpen Ibu Pergi Ke Laut yang realis dengan The Many Worlds of Albie Bright yang merupakan fiksi anak. Namun bagaimana cara Christopher Edge (penulis "Many Worlds of Albie Bright") menceritakan kesedihan pada pembaca anak-anak mungkin bisa menjadi wawasan baru untuk penulis-penulis cerita anak di Indonesia. Dunia anak tidak harus diisi dengan keceriaan dan kesenangan.
Tapi "Ibu Pergi Ke Laut" kan bukan cerita untuk anak-anak. Yes I know!
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI