Tinggal Kenangan
40-50 tahun yang lalu, hampir setiap keluarga masyarakat Dawan memiliki sapi dalam jumlah yang cukup fantastis. Berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus ekor. Bukti itu terpampang dengan jelas dalam dua hal yakni pertama, mayoritas setiap keluarga masyarakat Dawan memiliki kandang sapi dalam ukuran yang cukup luas di luar pagar perkampungan, dan yang kedua adalah dihampir setiap pinggir lumbung makanan keluarga, terdapat puluhan tanduk sapi dalam berbagai ukuran tertancap di sana.Â
Setiap orang yang datang memandang dengan kagum dan dengan sendirinya muncul pikiran bahwa yang empunya lumbung adalah keluarga berada atau kaya. Pertanyaan menariknya adalah kalau memang demikian adanya, mengapa kekayaan itu tidak membawa dampak positif atau memberikan perubahan hidup bagi masyarakat Dawan? Kenyataannya, dari waktu ke waktu, masyarakat Dawan tetaplah hidup sangat sederhana dan belum mengenyam pendidikan secara wajar. Untuk ini, penulis menemukan tiga alasan berikut:
Pola Pikir yang Keliru
Terdapat satu pola pikir yang sebenarnya keliru sehubungan dengan kekayaan (sapi) yang dimiliki oleh setiap keluarga masyarakat Dawan tetapi itu dihidupi sejak dahulu yakni, "Lebih baik sapi-sapi itu mati karena penyakit atau karena bencana apapun daripada dijual untuk memperbaiki hidup".Â
Para orangtua masyarakat Dawan nampaknya lebih rela apabila anaknya tidak sekolah atau berhenti melanjutkan pendidikan dan memperhatikan sapi-sapi milik keluarga dari pada harus menjual sapi-sapi tersebut untuk memberikan pendidikan yang wajar bagi anaknya. Berat rasanya untuk melepas piaraan bertanduk dua itu kepada orang lain.Â
Dalam pemenuhan kebutuhan pokok sehari-haripun demikian. Masyarakat Dawan nampaknya lebih rela untuk hanya sekedar makan jagung, tinggal dalam rumah yang sangat sederhana, daripada menjual sapi yang dimiliki untuk memperoleh kebutuhan pokok yang lebih baik.Â
Harga yang Miring dan Dikibuli Pembeli
Selain pola pikir yang keliru, hal lain yang turut mempengaruhi kekayaan sapi yang dimiliki masyarakat Dawan tidak memberikan dampak yang baik bagi kehidupan mereka adalah harga sapi yang tidak wajar. Harga seekor sapi di kalangan masyarakat yang berdiam di pulau Timor ini, amat ditentukan oleh ukuran dan kecerdikan tawar menawar si pembeli. Tak jarang, masyarakat Dawan dikibuli dalam hal ini.
Masyarakat Dawan mudah percaya dengan setiap pembeli yang datang. Kebiasaan untuk tidak langsung menuntut bayaran dan membiarkan sapinya dibawa oleh seorang pembeli dalam jumlah tertentu, membuat masyarakat Dawan mengalami kehilangan atau kerugian besar. Selalu saja ada alasan dari si pembeli untuk tidak membayar setelahnya. Sapi-sapinya belum lakulah, sapi-sapinya matilah, dan lain sebagainya.
Pengalaman di atas, tidak hanya merugikan masyarakat dalam hal materi tetapi juga dalam hal psikologi. Tidak sedikit masyarakat Dawan yang kemudian terganggu pikirannya karena piaraannya yang telah dibawa pergi dalam jumlah yang cukup banyak tetapi pembelinya tidak muncul untuk membayar. Kadang muncul si pembeli tetapi ia datang dengan berita buruk yang direkayasa (sapinya mati, sapinya belum laku, atau kapal pengangkutnya tenggelam?).Â
Menyembelih Sapi Dalam Jumlah yang Tak Wajar
Pantas dan wajar untuk bergembira, bersuka, dan berbahagia dalam menyambut dan merayakan peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan keluarga atau adat istiadat. Akan tetapi, masyarakat Dawan memiliki kebiasaan untuk merayakan moment-moment penting itu secara berlebihan.Â
Suatu acara keluarga atau ritual adat yang dilakukan masyarakat Dawan, dapat dilangsungkan berhari-hari dan menyembelih binatang korban dalam jumlah yang tidak sedikit termasuk sapi. Kebiasaan tidak baik ini, jikalau tidak dibaharui, maka masyarakat Dawan akan tetap terpuruk dalam garis kemiskinan.
Tulisan ini lahir dari refleksi penulis sendiri sebagai orang Dawan. Jikalau terdapat suatu kekurangan atau bahkan kekeliruan di dalamnya, mohon dikoreksi agar tulisan ini menjadi lebih sempurna. Kritik dan saran, penulis terima dengan terbuka.Â
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H