Dalam dialog yang tulus, perbedaan tidak lagi menjadi ancaman, melainkan kekayaan" - Gus Dur
Ekskursi agama yang dilakukan oleh siswa Kolese Kanisius ke Pesantren Muhammadiyah Al-Furqon pada tahun 2024 telah memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya harmoni, dialog antaragama, dan kebersamaan di tengah keberagaman. Kegiatan ini menjadi momen refleksi mendalam bagi para peserta, yang tidak hanya berhadapan dengan cara hidup yang berbeda tetapi juga dengan nilai-nilai toleransi dan kedamaian yang begitu nyata. Di tengah dunia yang sering diwarnai konflik akibat perbedaan, pengalaman ini menjadi bukti bahwa dialog dan penerimaan adalah jembatan menuju kehidupan yang harmonis. Â
Pondok Pesantren Muhammadiyah Al-Furqon berlokasi di Jalan Raya Barat Nomor 21A, Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya. Pesantren ini merupakan lembaga pendidikan Islam yang memadukan suasana alami dengan fasilitas modern.
Selain menawarkan pendidikan formal, pesantren ini menekankan pelajaran agama seperti tahsin, tahfidz, dan diniyyah, sambil memperkuat keterampilan modern seperti bahasa Arab, Inggris, dan komputer. Dengan fasilitas lengkap meliputi laboratorium, perpustakaan, asrama, dan lapangan olahraga, pesantren ini tidak hanya mendidik santri untuk memahami agama secara mendalam, tetapi juga mempersiapkan mereka menghadapi tantangan global tanpa kehilangan nilai tradisional Islam.
Sebuah Perjalanan Menuju Pemahaman
Perjalanan menuju pesantren ini dimulai dengan campuran rasa antusias dan kecemasan di benak para siswa. Mereka, yang terbiasa dengan kehidupan urban di Jakarta, harus memasuki dunia baru yang penuh dengan aturan dan rutinitas disiplin. Sepanjang perjalanan, mereka disuguhi pemandangan alam yang menenangkan: pegunungan hijau, sawah yang terbentang luas, dan rumah-rumah sederhana yang seolah menyampaikan pesan tentang kehidupan yang lebih tenang dan sederhana. Â
Sesampainya di pesantren, suasana damai dan senyum ramah para santri langsung menyambut. Para peserta merasakan kehangatan yang melampaui sekadar sapaan. Lingkungan pesantren yang asri, jauh dari hiruk-pikuk kota, memberikan ruang bagi refleksi. Di tempat ini, perbedaan keyakinan tidak menjadi jarak, melainkan pintu untuk saling mengenal dan memahami. Â
Nilai-Nilai dalam Kehidupan Pesantren
Hari-hari di pesantren dipenuhi dengan aktivitas yang mencerminkan kedisiplinan dan kesederhanaan. Para santri bangun pagi untuk melaksanakan ibadah, mengikuti pelajaran, dan menjalankan tanggung jawab harian dengan tekun. Rutinitas mereka, yang jauh dari gemerlap teknologi atau media sosial, justru menunjukkan makna hidup yang mendalam. Â
Bagi para siswa Kanisius, kehidupan di pesantren menjadi gambaran konkret tentang bagaimana nilai-nilai agama diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Disiplin yang diterapkan bukan sekadar aturan, melainkan cara hidup yang membentuk karakter dan kedekatan dengan Tuhan. Seperti yang pernah disampaikan oleh tokoh besar Islam, Imam Al-Ghazali, "Disiplin adalah jalan menuju kebaikan yang abadi."
Dialog Sebagai Jalan Menuju Harmoni
Salah satu momen penting dalam ekskursi ini adalah diskusi yang dilakukan antara siswa Kolese Kanisius dan santri kelas 12 Pesantren Al-Furqon. Dalam suasana penuh kehangatan, kedua pihak berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing. Santri dengan bangga menjelaskan kehidupan pesantren, sedangkan siswa Kanisius berbagi pengalaman tentang tradisi Katolik yang mereka jalani. Â
Dialog ini menjadi cerminan bahwa perbedaan tidak seharusnya menjadi penghalang untuk saling memahami. Sebaliknya, dialog yang dilakukan dengan hati terbuka mampu menciptakan ruang untuk saling belajar. Paus Fransiskus pernah berkata, "Dialog bukan hanya berbicara, tetapi juga mendengarkan dengan hati yang terbuka.". Dalam diskusi ini, terlihat bagaimana nilai-nilai universal seperti cinta, perdamaian, dan penghormatan kepada sesama menjadi dasar yang mempersatukan. Â
Alam sebagai Refleksi Keberagaman
Kunjungan ke curug dan pemandian air panas di Gunung Galunggung menjadi pengalaman lain yang menguatkan pemahaman tentang harmoni. Keindahan alam yang disaksikan oleh para peserta menggambarkan keberagaman yang saling melengkapi. Air yang mengalir, udara yang segar, dan ketenangan yang menyelimuti menjadi refleksi tentang kebesaran Tuhan. Â
Para siswa dan santri menikmati kebersamaan di tempat ini, tanpa memandang latar belakang agama atau budaya. Keindahan alam menjadi pengingat bahwa keberagaman adalah bagian dari ciptaan Tuhan yang harus dihargai.Â
Nilai Keberagaman yang Memersatukan
Ekskursi ini menunjukkan bahwa di balik tradisi dan cara beribadah yang berbeda, esensi dari semua agama tetap sama: mencari kedamaian, kebahagiaan, dan hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan. Kesederhanaan hidup para santri, kehangatan yang mereka tunjukkan, dan ketulusan dalam menyambut tamu adalah bukti nyata bagaimana nilai-nilai agama dapat menjadi jalan menuju harmoni. Â
Toleransi yang ditunjukkan oleh para santri juga menjadi pelajaran penting bagi para siswa Kolese Kanisius. Mereka diterima sebagai saudara, tanpa memandang perbedaan keyakinan. Hal ini menjadi contoh nyata bahwa toleransi bukan hanya konsep teoretis, melainkan sesuatu yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Â
Membawa Pulang Pelajaran Berharga
Ketika ekskursi ini berakhir, para peserta kembali dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang keberagaman dan pentingnya harmoni. Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa dialog, toleransi, dan penghormatan terhadap perbedaan adalah kunci untuk membangun dunia yang lebih damai. Â
Pelajaran dari pesantren ini sejalan dengan nilai-nilai Santo Ignasius yang diajarkan di Kolese Kanisius: untuk menemukan Tuhan dalam segala hal dan untuk menghargai keberagaman sebagai bagian dari rencananya. Ekskursi ini bukan hanya perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin yang mengajarkan nilai-nilai hidup yang lebih bermakna. Â
Dalam dunia yang kerap kali terpecah oleh perbedaan, pengalaman seperti ini menjadi bukti bahwa harmoni dapat dicapai jika semua pihak mau membuka hati dan berbicara dengan tulus. Sebagaimana yang dikatakan oleh Mahatma Gandhi,Â
"Agama yang berbeda hanyalah jalan-jalan yang berbeda menuju tujuan yang sama."
Mari menjadikan perbedaan sebagai sumber kekuatan, bukan perpecahan. Dengan begitu, keberagaman akan menjadi pondasi kokoh untuk kehidupan yang lebih damai dan penuh kasih. Â
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H