Mohon tunggu...
Maximilian Bima
Maximilian Bima Mohon Tunggu... Penulis - 7-8-2002, Born and Raised in semarang

Hanya seorang yang suka berkreasi dalam imajiansinya sendiri

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Cerpen | Am I? :Intro

10 April 2019   06:10 Diperbarui: 10 April 2019   06:26 33
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Aku hanya bisa tertawa kecil dan memasang muka tak bersalah akan hal tersebut

Sebenarnya walaupun kami dalam percakapan sehari-hari terdengar seperti orang yang membeci satu sama lain, kami merupakan sahabat yang sangat dekat. Jansen merupakan seorang belanda yang sangatlah ceroboh, tetapi ia pintar. Sehingga seberapapun tingkah berengseknya padaku. Dia tetap saja pintar seperti buku pelajaran berjalan. Sedangkan diriku berasal dari Indonesia, setidaknya secara keturunan lah. Tetapi aku lahir dan tumbuh di belanda, di sebuah kota yang bernama nijmegen dan juga merupakan kota lahirnya Jansen. Keluarga ku dan keluarga jansen merupakan tetangga dekat, sebab rumah kami hanya bersebelahan, dan sejak kedatangan orang tuaku di belanda yang sekitar 3 tahun sebelum kelahiran diriku dan jansen. Mereka sudah mempunyai hubungan yang erat satu sama lain. Jadi aku dan jansen sudah bagaikan keluarga tanpa ada ikatan darah.

Sesampainya kami sampai di tujuan kita, kita berdua turun dari bus dan langsung berjalan ke tempat kami tinggal. Kami sudah lega bahkan kami bisa pulang dari perpustakaan yang lumayan jauh dari tempat kami tinggal, tapi perpustakaan itu merupakan perpustakaan terlengkap yang aku tahu. Jadi aku merasa betah disana, tapi tidak untuk jansen. Jansen merupakan tipe-tipe orang yang akan langsung mual jika melihat buku, apalagi membacanya, aku tak akan membiarkannya masuk rumah sakit hanya karena dia membaca buku

"Aku lapar Tanner, bisakah kita mampir dulu ke sebuah rumah makan?"

Ku melihat jam tanganku, dan angka panjang sudah menunjukkan angka 11 malam "Kau lapar jam segini? Yakin, bukannya kau sudah makan tadi selama aku di perpustakaan?"

"Sudah sih, tapi kari yang mereka jual disana berasa seperti bangkai tikus yang sudah mati 2 minggu?" Ia mengatakan itu dengan muka separuh mengantuk separuh melas

Sebenarnya, ada alasan mengapa ia mengatakan hal ini. Karena satu, Besok pagi ia ada kelas pagi sehingga dengan pulang lebih larut, ia bisa bangun lebih siang. Dan kedua, ia bisa makan dan kemudian bilang kepadaku bahwa ia kehabisan uang untuk makan. Memang tingkah lakunya seperti seorang sialan yang suka memerasku, tapi tetap saja kuturuti karena bukan aku takut padanya. Karena sebagai tanda terima kasih ku padanya. Dan supaya aku bisa bilang pada orang tua Jansen bahwa anak mereka masih hidup dan tidak mati kelaparan.

"Oke, oke tapi..." sebelum ku selesai bicara, ia menyanggah " OKEEEY, dan bisakah kau membayar makananku? Akan ku ganti jika aku sudah punya uang, uangku sedang habis"

Aku terkekeh dengan suara hati yang kerap menggema dalam diriku "Memang sialan kamu Jansen"

***

"Tanner bangun, sudah siang. Bangunlah...." Terdengar suara wanita yang lembut dan tenang, membuat mata Tanner terbuka, tetapi saat ia membuka matanya tak terlihat seorang pun dikamarnya. Kemudian dia berdiri dari ranjang dan berjalan ke keluar kamar. Saat ia berjalan keluar kamar, tiba-tiba saja dia sudah berdiri di lorong kampus, dengan pakaian yang biasa digunakannya untuk ke sekolah dan tas yang sudah menggantung di lengan. Ia lihat sekelilingnya, dan terdengar bel sekolah yang berbunyi dan semua murid keluar dari kelas-kelasnya. Dan tepat di hadapan Tanner terdapat seorang gadis cantik yang memandangnya dengan tatapan hangat, dan tanpa sadar tubuhnya sudah bergerak mendekatinya, saat ia sudah semakin dekat dengannya. Tiba-tiba saja lantai gedung tersebut runtuh dan ia terjatuh kedalamnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Cerpen Selengkapnya
Lihat Cerpen Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun