Mohon tunggu...
Mawaddah Ibrahim
Mawaddah Ibrahim Mohon Tunggu... Mahasiswa - Pendidikan

_______________

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Perempuan Tidak Wajib Menjadi Ibu, Childfree?

14 Desember 2021   22:23 Diperbarui: 14 Desember 2021   22:40 135
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Feminisme merupakan istilah yang tidak lagi asing terdengar dewasa ini. Menurut KBBI, feminisme adalah gerakan wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara laki-laki dan perempuan. Persamaan hak tersebut dapat meliputi apa saja, seperti hak untuk mendapatkan pendidikan, kesempatan bekerja, hak untuk bersuara, dan kesetaraan lainnya. Hegemoni patriarki dalam masyarakat dan tatanan hukum menyebabkan dominasi, subordinasi, serta ketimpangan gender pada wanita. Hal ini kemudian menyebabkan aturan hukum menjadi tidak objektif karena ideologi pembuat keputusan dibuat tidak untuk kepentingan wanita. Salah satu tokoh feminisme yang terkenal di Indonesia yaitu R.A Kartini. Beliau turut bersuara mengkritik keadaan perempuan Jawa yang tidak mendapatkan kesempatan untuk mengecap pendidikan yang setara seperti halnya kaum laki-laki.

Berbicara mengenai feminisme tentu tak lepas dari patriarki yang merupakan perilaku yang mengutamakan laki-laki daripada perempuan dalam masyarakat atau kelompok sosial tertentu. Ketimpangan terhadap gender biasanya terjadi akibat masyarakat yang terhegemoni oleh patriarki. Hal ini yang kemudian menimbulkan perdebatan hingga saat ini.

Memasuki abad ke-21 dimana perempuan sudah diberdayakan untuk bisa memilih pilihan hidupnya. Perempuan diberikan haknya untuk melanjutkan pendidikan, diberikan kebebasan untuk berkarier atau menjadi Ibu rumah tangga, masuk dalam dunia parlemen dan lainnya. Namun meskipun telah diberi kebebasan perempuan juga tetap tidak terlepas dari stigma negatif.

Misalnya perempuan yang memilih untuk berkarir di luar rumah dianggap tidak sayang keluarga, perempuan yang melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dianggap hanya mementingkan diri sendiri bahkan ketika perempuan memilih untuk melajang dan tidak ingin cepat menikah seolah hal tersebut merupakan suatu permasalahan.

Berbicara kebebasan tentang pilihan hidup akhir-akhir ini media berlomba-lomba menayangkan pernyataan seorang influencer Asal Indonesia yang tinggal di Jerman. Ia bernama Gita Savitri Devi yang mana ia telah menikah dengan seorang laki-laki asal Indonesia juga yang bernama Paulus. Pemberitaan media dimulai dari ungkapan Gita di sebuah youtube chanel Analisa Widyaningrum (Analisa Chanel). Dalam tayangan youtube tersebut Gita mengungkapkan bahwa dirinya dan paul sama-sama sepakat untuk memilih tidak mempunyai anak atau istilah lainnya Childfree.

Childfree merupakan sebuah prinsip seseorang yang komitmen untuk tidak memiliki anak, baik itu anak kandung atau anak angkat. Istilah childfree digunakan oleh mereka yang memutuskan untuk tidak memiliki anak pada paruh kedua abad ke-20. Beragam alasan banyak orang memilih untuk childfree, bahkan dibeberapa Negara childfree sudah merupakan hal yang biasa, meskipun pada kenyatannya banyak yang menilai prinsip tersebut bertentangan dengan fitrah manusia.

Keputusan untuk memiliki anak tentu bebas-bebas saja, karena setiap orang memiliki alasan dan pengalaman yang berbeda-beda dalam memandang hidup.

Di Indonesia, kita mengenal Veronica Wilson, salah satu perempuan yang berani speak up terkait dengan keputusannya untuk tidak mempunyai anak. Meski sempat terhalang tradisi orang tua masing-masing, Veronica dan suami tetap untuk memilih dan mengambil keputusan childfree ini.

Keinginan Childfree yang ia pegang bukan karena faktor eksternal melainkan karena memang ia tidak ingin mempunyai anak. Bahkan pemikiran ini telah ada sejak Veronica masih kecil.

Alasan utamanya karena pengalaman hidup, dimana Veronica memiliki pengalaman yang tidak cukup menyenangkan dengan mendiang Ibu. Perilaku toxic yang dikhawatirkan juga akan menurun pada dirinya, atau bahkan pada keturunan dirinya.

Mereka yang memutuskan untuk childfree bisa jadi memiliki masalah dengan masa kecilnya, seperti ketakutan untuk menjadi orang tua yang sama seperti orang tua mereka dan memaksa anak untuk merasakan pengalaman buruk.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun