Burung garuda dengan latar biru menjadi trending topic. Pesan dalam frasa peringatan darurat Indonesia telah mencapai 200k pencarian di sebuah kolom raksasa Google.Â
Indonesia memang tidak sedang sehat-sehat saja. Aturan dan kebijakan memihak pada yang diuntungkan dan menebas kaum bawah. Rakyat kian tersiksa karena ulah keserakahan pemimpin.Â
Utang Indonesia berpotensi menembus angka 10 Kuadriliun di 2025. Apakah ini sebuah ancaman atau pertanda bahwa negara sedang tidak baik-baik saja?
Perombakan kabinet dan perubahan aturan berkaitan dengan Pilkada menimbulkan tanda tanya besar. Banyak aturan yang tidak masuk akal dan banyak posisi penting diisi oleh orang-orang yang tidak kompeten.
Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) segera berlangsung. Para bakal calon gubernur mulai menampakkan diri pada publik. Foto-foto berserakan di jalanan dengan slogan merakyat.
Calon-calon berpotensi sulit masuk dalam bursa calon. Partai-partai banyak yang berpindah haluan demi merebut kursi 'panas'. Idealisme ditanggalkan beserta atribut kerakyatan yang sudah lama dipikul.Â
Politik tidak seperti dulu. Lawan bisa menjadi kawan demi sebuah jabatan. Ah, rakyat sulit menggunakan akal sehat untuk memilih orang yang dipercaya mampu merubah keadaan.
Toh, ketika terpilih nanti, mereka lupa daratan. Sebelum terpilih 'mengemis' dengan segala program berkeadilan dan berkerakyatan, lantas ketika terpilih amplop-amplop tebal itu hilang tak berbekas.Â
Begitulah kenyataannya. Suara rakyat dihargai dengan seliter minyak makan atau mungkin sepaket sembako. Ada juga yang rajin mendekati rakyat dengan berbagi.
Peringatan darurat Indonesia adalah sebuah fakta yang sulit dibantah. Keadaan rakyat terutama kelas bawah kian morat marit. Masalah judi online, lowongan pekerjaan, dan hutang negara jelas menggambarkan situasi darurat.
Terkadang, kondisi darurat perlu diketahui publik. Antisipasi dari awal jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Jangan sampai kita baru terbangun ketika harimau sudah siap menerkam.Â
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H