Ekspor utama Indonesia kepada mitra utama, termasuk China, AMerika Serikat, Jepang, India, dan Uni Eropa, terus mendominasi dengan komoditas unggulan batu bara, minyak sawit, dan produk manufaktur.Â
Beberapa pasar, seperti Vietnam, Jepang, dan Amerika Serikat mencatat pertumbuhan signifikan masing-masing 30%, 18,7%, dan 17%. Namun, ekspor ke China dan Korea Selatan melambat masing-masing 12,7% dan 0,2%.Â
Penurunan ekspor tersebut dipengaruhi salah satunya oleh penurunan ekspor bahan mentah nikel, setelah mencatat penurunan berturut-turut pada kuartal sebelumnya.
Investasi langsung asing mengalami peningkatan, terutama pada sektor industri pengolahan yang tumbuh Rp 4,7 triliun atau 4,7% dibandingkan kuartal sebelumnya.Â
Pada investasi ini didominasi oleh Amerika Serikat, Singapura, Uni Eropa, Jepang, dan Korea Selatan. Meski mengalami peningkatan yang memperlihatkan potensi besar, perlu diimbangi dengan pengelolaan investasi yang optimal agar dampaknya benar dirasakan dalam perekonomian domestik.
Baca juga: Menyongsong Pertumbuhan Ekonomi 8% di Indonesia, Mungkinkah?
Capaian surplus transaksi pembayaran dan peningkatan investasi, menunjukkan ketahanan Indonesia dalam tekanan global.Â
Namun, penurunan pada sektor industri dan konsumsi domestik, perlu menjadi perhatian serius dari pemerintah. Pemberian kebijakan yang tepat dapat menjaga stabilitas moneter, meningkatkan daya beli domestik, dan mendorong ekspor serta investasi modal asing.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI