Pendidikan Pancasila merupakan, mata pelajaran yang mempelajari ilmu di bidang sosial, hukum, politik, dan moral sehingga  mengarahkan peserta didik untuk bertanggung jawab dan  berperan aktif dalam masyarakat sesuai ketentuan Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) 1945.
Keaktifan belajar peserta didik adalah suatu kondisi, perilaku atau kegiatan yang terjadi pada siswa pada saat proses belajar yang ditandai dengan keterlibatan peserta didik seperti bertanya, mengajukan pendapat, mengerjakan tugas-tugas, dapat menjawab pertanyaan guru dan bisa bekerja sama dengan siswa lain, serta bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan. Keaktifan belajar siswa merupakan unsur terpenting dalam pembelajaran, karena keaktifan akan berpengaruh besar pada keberhasilan proses pembelajaran. Semakin tinggi keaktifan peserta didik, maka keberhasilan proses belajar mengajar seharusnya juga menjadi semakin tinggi. Menurut Surtikanti dan Santoso (2007), pembelajaran yang berkualitas adalah terlibatnya peserta didik secara aktif dalam pembelajaran. Keterlibatan yang dimaksud adalah aktivitas mendengarkan, komitmen terhadap tugas, mendorong berpartisipasi, menghargai kontribusi/pendapat, menerima tanggung jawab, bertanya kepada pengajar atau teman dan merespons pertanyaan.
Partisipasi aktif peserta didik sangat berpengaruh pada proses perkembangan berpikir, emosi, dan sosial. Beberapa upaya yang dapat dilakukan guru dalam mengembangkan keaktifan belajar peserta didik dalam mata pelajaran Pendidikan Pancasila adalah dengan meningkatkan minat peserta didik,  membangkitkan motivasi peserta didik, serta menggunakan media dalam pembelajaran. Keterlibatan peserta didik  dalam belajar, membuat peserta didik secara aktif terlibat dalam proses pembelajaran.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan peserta didik kurang aktif dalam pembelajaran Pendidikan Pancasila, diantaranya yaitu:
1. Peserta didik menganggap bahwa mata pelajaran Pendidikan  Pancasila kurang bisa dipahami dan tidak menyenangkan;
2. Peserta didik menganggap bahwa mata pelajaran Pendidikan Pancasila tidak berhubungan dengan kehidupan sehari-hari/kontekstual;
3. Pembelajaran didominasi oleh guru dan berlangsung satu arah sehingga menyebabkan siswa kurang aktif dalam pembelajaran di kelas;
4. Peserta didik kurang aktif bertanya/menjawab pertanyaan, dan malas untuk mengerjakan soal yang diberikan oleh guru karena mereka sudah beranggapan Pendidikan Pancasila itu sulit;
5. Peserta didik kurang percaya diri dan susah mengolah kalimat dalam bertanya dan merasa cukup dengan apa yang dipahami saat proses belajar mengajar berlangsung;
6. Peserta didik merasa takut ditertawakan dan disalahkan jika bertanya;.
7. Adanya perasaan sungkan atau segan untuk bertanya baik kepada  guru maupun pada peserta didik yang lain; dan
8. Peserta didik  kurang menguasai materi yang dijadikan bekal untuk bertanya.
Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, maka dilakukan beberapa hal, yaitu:
1. Menggunakan model pembelajaran yang menarik dan tepat agar tujuan dari pembelajaran Pendidikan Pancasila tersebut dapat tercapai, yaitu dengan menjadikan siswa berpikir kritis, rasional, dan kreatif. Adapun model pembelajaran yang dapat diterapkan misalnya dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning ataupun project based learning. Dengan model  pembelajaran problem based learning, model ini memiliki kelebihan yaitu membantu pendidik memberikan informasi sebanyak-banyaknya, dapat membantu peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berpikir, pemecahan masalah, dan keterampilan intelektual. Belajar tentang berbagai peran orang dewasa melalui pelibatan mereka dalam pengalaman nyata atau simulasi, dan menjadi pembelajar yang otonom dan mandiri. Menurut Grant (2002) project based learning menekankan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik ketika melakukan suatu investigasi yang mendalam terhadap suatu topik. Secara konstruktif, peserta didik melakukan eksplorasi atau pendalaman pembelajaran dengan melakukan pendekatan berbasis riset terhadap permasalahan dan pertanyaan yang berbobot, nyata, dan relevan. Jadi, dengan model pembelajaran project based learning mengatasi peserta didik agar aktif dalam proses pembelajaran. Dengan model pembelajaran project based learning  peserta didik didorong untuk menjadi pekerja yang mandiri, pemikir kritis, dan pembelajar seumur hidup. Project based learning  bukan hanya sebuah cara untuk belajar, namun juga cara untuk mengajarkan cara bekerja sama;
2. Menggunakan media pembelajaran yang menarik, sehingga peserta didik tertarik dalam pembelajaran, diharapkan mereka aktif dalam bertanya maupun menyampaikan pendapat. Dalam hal ini guru dituntut lebih kreatif untuk membuat media pembelajaran, misalnya dengan membuat media aplikasi Canva. Dengan menggunakan  media ini peserta didik lebih termotivasi dan fokus degan materi yang disajikan oleh guru; dan
3. Menentukan gaya belajar peserta didik sesuai dengan karakteristik peserta didik, sehingga  guru dapat  menentukan strategi pembelajaran yang paling tepat agar proses pembelajaran berhasil secara optimal.
Dengan menggunakan model dan metode  pembelajaran  sesuai dengan materi pembelajaran, menggunakan media pembelajaran , dan menentukan gaya belajar dan karakteristik yang tepat bagi kebutuhan peserta didik, maka diharapkan peserta didik dapat meningkatkan minat belajar, bertanya, dan menyampaikan pendapat saat pelajaran Pendidikan Pancasila berlangsung.
Daftar Pustaka
https://www.ruangkerja.id/blog/project-based-learning-adalah
Grant, M.M. 2002. Getting A Grip of Project Based Learning : Theory, Cases and Recomandation. North Carolina : Meredian A Middle School Computer Technologies. Journal Vol. 5.
Riadi, Muchlisin. 2020. Â Pengertian, Bentuk, Indikator dan Faktor yang Mempengaruhi Keaktifan Belajar. Kajian Pustaka.
Surtikanti dan Santoso. 2007. Strategi Belajar Mengajar. Surakarta: FKIP Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI