Mohon tunggu...
Mas Teddy
Mas Teddy Mohon Tunggu... Buruh - Be Who You Are

- semakin banyak kamu belajar akan semakin sadarlah betapa sedikitnya yang kamu ketahui. - melatih kesabaran dengan main game jigsaw puzzle. - admin blog https://umarkayam.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

Lyfe Artikel Utama

Film Indonesia: Kelemahan dan Potensinya

31 Maret 2016   07:51 Diperbarui: 4 April 2017   16:36 2463
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Sumber: hauteprovenceinfo.com"][/caption]Tanggal 30 Maret kemarin diperingati sebagai Hari Film Nasional. Tanggal ini dipilih karena pada tanggal 30 Maret ini (tepatnya 30 Maret 1950) adalah hari pertama syuting film “Darah dan Do’a (Long March of Siliwangi)” karya sutradara Usmar Ismail. Film ini dianggap sebagai film lokal pertama yang bercirikan Indonesia, yang 100 % made in Indonesia.

Sejarah perfilman Indonesia sendiri sebenarnya sudah cukup panjang, bahkan melebihi usia republik ini. Film pertama di Indonesia adalah film bisu berjudul “Loetoeng Kasaroeng” karya sutradara Belanda G. Kruger dan L. Heuveldorp (1926).

Meski sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda, mengapa perfilman Indonesia susah berkembang?

Inilah beberapa penyebabnya:

  1. Produser
    Jumlah produser film Indonesia yang bisa dihitung dengan jari mengakibatkan film yang dihasilkannya hanya berputar di tema yang itu-itu saja, sesuai selera sang produser. Selera keluarga Punjabi tentu berbeda dengan selera Mira Lesmana dan Ari Sihasale, misalnya. Anda bisa menebak sendiri film jenis apa yang diproduksi oleh keluarga Punjabi, Mira Lesmana dan Ari Sihasale. Tentu bukan masalah jika itu sudah menjadi ciri khas mereka, seperti halnya Walt Disney yang punya ciri khas memproduksi film-film segala umur. Menjadi masalah karena jumlah produser film Indonesia tidak banyak, sehingga penonton tidak banyak mendapatkan film dengan tema alternatif.

    Jika film dengan genre horor sedang tren atau laris, maka dia akan membuat film horor lagi. Horor lagi dan horor lagi. Begitu juga jika film dengan tema religi ternyata laris, film berikutnya pasti bertema religi lagi. Dengan kekuatan uangnya sang produser bisa mendikte jenis film apa yang akan diproduksinya.

  2. Sutradara
    Kebanyakan sutradara kita kurang memperhatikan detil adegan. Bisa jadi karena harus mengejar deadline alias kejar tayang. Bisa juga karena naskah atau skenarionya yang kurang detil. Almarhum Teguh Karya adalah sutradara yang sangat memperhatikan detil karena beliau juga seorang penulis skenario.
    [caption caption="Gambar dari cinematerial.com"]
    [/caption]
    Saya ambil contoh dari film “Denias, Senandung di Atas Awan” (John de Rantau, 2006). Lihat cuplikan adegan Enos pulang ke kampungnya untuk mengambil rapor. Digambarkan Enos harus berlari naik turun bukit, menyeberangi sungai dan danau. Mungkin, sang sutradara ingin memperlihatkan betapa jauh dan beratnya perjalanan Enos sekaligus ingin memperlihatkan betapa cantiknya alam Papua. Bagi yang belum mengenal geografi dan topografi Papua mungkin akan manggut-manggut saja sekaligus berdecak kagum. Tetapi karena film ini didasarkan pada kisah nyata dengan tempat kejadian yang betul-betul ada, saya justru merasa heran. Memang jalur transportasi darat di Papua sangat minim, tapi apa iya dari Kuala Kencana ke Ilaga harus lewat Danau Habaema? Entah itu karena skenarionya yang bilang begitu atau kemauan sang sutradara. Bagi saya kok aneh.
    [caption caption="Gambar dari sidomi.com"]
    [/caption]Saya ambil contoh lagi film “The Raid” (Gareth Evans, 2011). Meski film laga ini sukses luar biasa dan mendapat banyak pujian, baik dari dalam maupun luar negeri, tetap saja ada adegan yang membuat saya geleng-geleng kepala. Bukan karena takjub, tapi karena heran bahkan ingin tertawa. Bayangkan, di dalam gedung apartemen berlantai 30, lantainya bisa ditembus/dilubangi dengan kapak karena terbuat dari kayu. Kalau dinding atau sekatnya terbuat dari kayu/papan atau multiplek, OK-lah. Masih bisa diterima. Tapi kalau lantainya dari kayu/papan? Woouuuww! Apalagi lantai yang di koridor/gang terbuat dari beton. Bagaimana bisa, begitu masuk ruangan lantainya berubah terbuat dari kayu/papan? Hellooww... apa kata orang konstruksi bangunan!

  3. Penulis Naskah atau Skenario
    Sebetulnya kelemahan utama dan pertama dunia film Indonesia berawal dari naskah atau skenarionya. Permasalahannya naskah atau skenario sangat terkait dengan sutradara dan produsernya. Ada naskah dan skenario bagus, ada sutradara yang mau menggarapnya tapi tidak ada produser yang mau mendanai. Sebaliknya meski naskah dan skenarionya tidak bagus tapi kalau ada produser yang mau keluar dana, ya jadi filmnya. Ujung-ujungnya kembali ke produser.

    Sering kita saksikan cerita yang ‘ujug-ujug’ alias tiba-tiba tanpa asal muasal yang jelas. Yang paling sering kita lihat ketika yang miskin, lemah atau teraniaya berdo’a, memohon kepada Yang Maha Kuasa. Bisa ditebak di adegan atau beberapa adegan berikutnya do’anya pasti terkabul tanpa adanya upaya dari yang berdo’a. Untuk urusan naskah dan skenario, terus terang saja, penulis naskah dan skenario kita –secara umum- masih kalah dibandingkan dengan film India.
    [caption caption="Gambar dari quora.com"]

    [/caption]Ambil contoh film “Lagaan” (2001), yang masuk dalam nominasi penghargaan Academy Awards (Oscar) untuk kategori film berbahasa asing terbaik. Film ini berkisah tentang perjuangan warga sebuah desa di India melawan kolonial Inggris melalui permainan cricket. Bagaimana jatuh bangunnya warga desa dalam membentuk tim cricket tergambar dengan sangat jelas dan detil dalam film yang berdurasi 3 jam 35 menit tersebut. Tidak ujug-ujug bisa main cricket dan menang.

    Kalau dirunut lebih jauh, kelemahan penulisan cerita dalam film-film kita karena pelajaran mengarang kurang mendapat perhatian di bangku sekolah. Sehingga kita kekurangan cerita yang bagus dan variatif. Kita kekurangan cerita dengan tema olah raga, kriminal, detektif dan misteri (yang bukan hantu). Saya berharap ada cerita seperti dalam film “The DaVinci Code” (Ron Howard, 2006) atau sekuel “Taken” (2008, 2012 & 2014), -terutama sekuel pertama- yang mengajak kita untuk berpikir secara terstruktur. Dulu ada serial detektif di majalah remaja ‘Hai’ bernama Imung yang ditulis oleh Arswendo Atmowiloto. Semoga ada sutradara dan produser yang mau menggarapnya.
    [caption caption="gambar dari ngidambuku.blogspot.com"]

    [/caption]Salah satu kurang berkembangnya cerita dalam perfilman kita adalah masih adanya beberapa isu yang cukup sensitif bagi sebagian masyarakat kita, sehingga para penulis cerita enggan atau tidak punya cukup keberanian untuk menyinggung apalagi mengangkat isu sensitif tersebut. Kondisi ini tentu berbeda dengan di Amerika dan Eropa, yang bebas menulis tentang apa saja.

  4. Penonton
    Latar belakang pendidikan, ekonomi dan budaya penonton Indonesia yang sangat beragam akan menghasilkan penilaian yang berbeda pula terhadap sebuah film. Bagi kebanyakan penonton yang berasal dari golongan menengah ke bawah, film yang bagus itu adalah film yang menghibur, yang ringan-ringan saja tanpa banyak mikir. Buat mereka sisi teknis perfilman seperti editing, sinematografi, tata suara dan musik dan lain-lainya tidak penting. Pokoknya nonton dan merasa terhibur. Titik. Sebaliknya bagi penonton yang merasa terdidik, film bukan hanya sekedar hiburan. Tapi harus ada nilai plusnya, baik dari sisi teknis perfilmannya mau pun pesan yang disampaikan oleh film tersebut.

    Dua kubu ini akan menghasilkan penilaian yang bertolak belakang terhadap sebuah film. Contoh gamblang, film-film Warkop DKI. Bagi kebanyakan orang Indonesia yang merasa terhimpit dengan beban kehidupan, nonton film Warkop DKI adalah hiburan yang menyenangkan. Film-film Warkop DKI mampu mengalihkan sekaligus melupakan sejenak beratnya kehidupan. Namun bagi kalangan tertentu film-film Warkop DKI tidak lucu sama sekali. Mereka berpendapat “film kok nggak jelas juntrungannya”, “ceritanya gak nyambung” dan komentar-komentar minor lainnya. Menurut mereka film komedi yang bagus itu seperti “The Gods Must be Crazy” (1980) atau “A Fish Called Wanda” (1988), misalnya.

    [caption caption="Gambar dari movierivews.com"]

    [/caption]
    [caption caption="Gambar dari themmacommunity.com"]
    [/caption]Dengan beragamnya tingkat pemahaman terhadap film akan sulit bagi sebuah film untuk mendapatkan pengakuan yang absolut dari penonton. Akibatnya susah buat sebuah film mendapatkan predikat “box office” karena terpecahnya segmen penonton. Hal ini tentu berbeda dengan di Amerika atau Eropa yang tingkat pemahamannya relatif sama atau merata.

Di luar beberapa kelemahan di atas, sebenarnya perfilman Indonesia punya potensi besar untuk berkembang.

Tahun ini pemerintah telah merevisi Peraturan Presiden No. 39 Tahun 2014 tentang Daftar Negatif Investasi. Dalam revisi Perpres tersebut pemerintah mengeluarkan sektor industri perfilman dari Daftar Negatif Investasi (DNI). Artinya investor atau pemodal asing sudah bisa masuk di sektor perfilman. Semoga dengan adanya investor asing yang masuk akan membawa perubahan terhadap perfilman Indonesia. Diharapkan selain membawa modalnya, mereka juga membawa ide, pengetahuan dan teknologinya.

Sumber daya manusia Indonesia di bidang animasi mulai memperlihatkan kemampuannya. Banyak animator Indonesia yang bekerja di perusahaan film dunia. Mereka tergabung dalam tim animasi untuk film-film box office Hollywood. Seperti: Andre Surya yang terlibat dalam film “Transformers – Revenge of The Fallen” (Michael Bay, 2009) atau Rini Sugianto yang terlibat dalam film “The Adventure of Tin Tin” (Steven Spielberg, 2011), Ronny Gani dan animator-animator lain, yang jumlahnya ribuan. Merekalah salah satu harapan masa depan perfilman Indonesia. Salah satu film animasi karya anak bangsa adalah “Battle of Surabaya” (MSV Pictures, 2015) dan banyak film animasi pendek, yang bertebaran di situs video Youtube. Sebagai langkah awal, film animasi “Battle of Surabaya” cukup bagus meski masih agak kaku dan sangat terpengaruh oleh film animasi dan komik Jepang (manga).

Mengikuti kesuksesan film “The Raid”, beberapa alumnusnya mulai dilirik oleh produser dan sutradara film Hollywood. Iko Uwais, Yayan Ruhiyan, Joe Taslim, Cecep Arif Rachman dan Ray Sahetapy “ketiban pulung” ikut bemain di film-film Hollywood. Apakah keikutsertaan aktor-aktor Indonesia dalam film-film Hollywood akan berdampak pada perkembangan perfilman Indonesia? Secara langsung mungkin tidak karena saya melihat ini justru sebagai salah satu trik pemasaran Hollywood untuk menggaet lebih banyak penonton Indonesia.

Karakter orang Indonesia yang gampang percaya dan lebih bangga dengan produk luar negeri telah dimanfaatkan dengan baik oleh Hollywood. Dengan memberikan peran kecil saja (yang bahkan bisa masuk dalam kategori ‘deleted scene’) kepada aktor Indonesia, orang Indonesia sudah bangga dan bisa dipastikan akan berduyun-duyun mendatangi bioskop untuk melihat aktornya bermain di film Hollywood. Hal yang sama juga diperlakukan kepada Tonny Jaa (Thailand, Fast & Furious 7), Anil Kapoor (India, Mission Impossible IV – Ghost Protocol) dan Bing Bing Li (China, Transformers 4 – Age of Extinction). Mereka hanyalah sebagai penyedap film sekaligus sebagai magnet untuk menarik penonton di negara masing-masing.

OK,  Light... Camera..... Action!

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Lyfe Selengkapnya
Lihat Lyfe Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun