Judul Buku: Senja di Jakarta
Penulis: Mochtar Lubis
Penerbit: Yayasan Obor Indonesia
Tahun terbit: 2009
Tebal: 278 halaman
Senja di Jakarta adalah sebuah rentetan tulisan tentang kehidupan politik dan sosial di Jakarta selama kurun waktu 1950-an. Dalam novel ini pembaca diharapkan dapat terjun dan meratapi sebuah kemiskinana, korupsi, dan kejahatan yang mengalir deras di suatu kota namannya Jakarta.Â
Ceritanya melukiskan berbagai kekuatan yang membentuk dan mepengaruhi serta mendorong kehidupan manusia manusia miskin, kaya, dan mereka yang baru saja atau sudah lama berpindah tempat, dari desa tanpa konflik ke kota yang menyesakkan.Â
Tulisan yang di tulis pada masa orde lama ketika Mochtar Lubis masih di dalam penjara ini pertama kali di terbitkan di London dengan judul Yang Teridjak dan Melawan, lalu judul ini diganti oleh penerbit menjadi Twilight in Jakarta, sampai akhirnya di terbitkan dengan versi bahasa Indonesia berjudul Senja di Jakarta.Â
Buku ini tak kalah menariknya walaupun pertama kali di terbitkan dengan bahasa Belanda dan Melayu. Bab terbaik di dalam novel ini adalah sisi gelap masyarakat di Jakarta, dari awal hinga akhir seluruh babnya penuh dengan demokrasi, nasionalisme, dan agama telah di dominasi oleh para borjuis dari Partai Komunis Indonesia.
Suryono dalam novel ini diperankan sebagai pegawai kementrian luar negri di sebuah perusahaan fiktif ayahnya yang bernama Raden Kaslan, selain itu Suryono juga bekerja sebagai penghibur wanita wanita kesepian kelas atas. Sebelum menjabat sebagai direktur di beberapa perusahaan Suryono bekerja di luar negri dengan fasilitas yang tidak cukup baik sehingga ia memilih untuk kembali ke Indonesia.Â
Lalu salah satu orang yang bekerja sama dengan Raden Kaslam bernama Sugeng, seorang suami yang selalu di tuntut sempurna oleh istrinya, namun beda halnya dengan Rusdi seorang yang tidak tergiur jabatan walau istrinya sama sama penuntut seperti istri Sugeng. Perusahaan Raden Kaslan ini meraih untung yang sangat banyak dan membuat rekan rekan yang terlibat bisa hidup bergelimang harta.Â
Di samping itu, sama sama masih di bawah langit Jakarta, Pak Iji dan istrinya di paksa untuk menahan lapar, banting tulang menghidupi dirinya dan keluarnya.Â
Begitu juga dengan perempuan bernama Neneng yang bekerja menjadi seorang pelacur karena tak tahan lapar.Raden Kaslan dan rekannya tak pernah tahu bahwa di bawah langit Jakarta juga terdapat seseorang yang menyedihkan, yang sedang menahan lapar, dan memprihatinkan.
Namun kenikmatan yang Raden Kaslan dan rekan rekannya rasakan tidak bertahan lama, suatu hari koran koran di Jakarta penuh dengan perseteruan antar partai, dan perusahaan fiktif tersbeut.Â
Pada waktu yang sama Raden Kaslan dan rekannya di tangkap pihak keamanan, sedangkan Suryono dan Ratna mencoba melarikan diri yang berakhir dengan kecelakaan maut di puncak, Suryono saat itu langsung meninggal setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Bogor.
Kekurangan:
Meskipun judul novel tersebut terkesan mudah di pahami, seakan akan hanya menceritakan manusia manusia dari berbagai golongan di Jakarta, namun sebenarnya alur cerita pada buku tersebut tidak mudah untuk di serap dan di mengerti. Buku ini juga penuh dengan bahasa yang rumit dan membuat kita harus membaca ulang atau mencari maknanya untuk lebih memahami isi tersebut.
Kelebihan:
Buku ini mampu memerikan gambaran penuh mengenai situasi dan cerita manusia manusia di Jakarta pada masa Demokrasi Liberal-Terpimpin.Â
Buku ini banyak menceritaka tentang hal hal yang kita tidak ketahui, apalagi untuk generasi sekarang karena mereka tidak hidup pada masa Demokrasi Liberal-Terpimpin. Semua yang tertuang disini seperti tidak ada yang di tutup tutupi, dan lebih melihat kondisi kehidupan dari segi yang mengerikan dari pada meyenangkan.
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI