Akhirnya dia menetapkan keputusannya untuk tinggal di Indonesia, pindah ke Bandung, bertani bunga di Pacet, lembang dan memeluk agama islam, menikahi kekasihnya yang orang Sunda dan mengubah namanya menjadi Mochammad Idjon djanbi. Dalam hidupnya, Visser hanya mengenal dua macam pekerjaan, sebagai petani maupun sebagai prajurit. Selama tidak menjadi tentara dia bertani.[14]
[1] Disjarahad, Sejarah TNI AD (1945-1973) 2 Peranan TNIAD Menegakan Negara Kesatuan RI, Jakarta, Disjarahad TNI AD. 1979. h. 97-98
[2]Andi Azis diangkat anak oleh orang Belanda itu—seperti halnya Alimin yang diangkat anak oleh seorang penasehat urusan pribumi. Sebagai anak angkat orang Belanda terpelajar mereka pastinya menikmati pendidikan modern yang hanya bisa dinikmati segelintir orang pribumi. Berbekal semua itu sebenarnya Andi Azis memiliki bakat menjadi orang berpengaruh di Indonesia Timur bila NIT masih bertahan.
[3] Disjarahad, Sejarah TNI AD (1945-1973) 2 Peranan TNIAD Menegakan Negara Kesatuan RI, Jakarta, Disjarahad TNI AD. 1979. h. 97-98: Disjarahad Militer AD, Naskah Pemebrontakan PRRI Permesta, Andi Azis, RMS dan OPM, Bandung, 1972. (Manuskrip).
[4] Andi Azis bisa jadi pernah bertemu Westerling disana. Disana mereka dilatih menjadi pasukan khusus. Pendidikan disini sangat berat. Paling berat dibanding pasukan-pasukan lain yang akan terjun dalam front Eropa.
[5] Disjarahad, Sejarah TNI AD (1945-1973), h. 97-98.
[6] Disjarahad, Sejarah TNI AD (1945-1973), h. 97-98.
[7] Ramadhan K.H, A.E. Kawilarang: Untuk Sang Merah Putih, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 1988, hlm. 14-16.
[8] Ibid.
[9] T.B. Simatupang, Membuktikan ketidakbenaran suatu Mitos Menelusuri Makna PengalamanSeorang Prajurit Generasi Pembebas Bagi Masa Depan Masyarakat, Bangsa dan Negara, Jakarta, Pustaka Sinar Harapan, 1991. hlm. 81-82: Coen Husein Pontoh, op. cit., hlm. 15.
[10] Buku Kenang-kenangan Alumni KMA Breda, op. cit., hlm. 84.