Mohon tunggu...
Mas Nawir
Mas Nawir Mohon Tunggu... Wiraswasta - Wiraswasta/Penulis lepas

Vlogger Blogger Youtuber

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Kisah Inspiratif: Driver Ojek Online yang Terabaikan

21 Agustus 2020   15:06 Diperbarui: 21 Agustus 2020   15:44 70
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi kumparan.com 

Handphone di tangan perempuan itu berbunyi, ada notifikasi dari aplikasi yang digunakannya. Sesaat ia memperhatikan notifikasi yang tertera di handphone yang dipegangnya, lalu ia klik 'ambil order', lalu kemudian ia beranjak pergi meninggalkan saya.

"Sebentar ya mas?" pamitnya ramah. Lalu motor ia nyalakan dan hilanglah ia dalam  kermaian kendaraan di jalan  Lamper kota Semarang .

Ia mengambil order yang dekat-dekat saja .
Rp. 8000 yang ia dapatkan dari mengantar seseorang dari radius yang tak terlalu jauh dari ia mendapatkan order.  "Nyantol" adalah istilah yang lazim dipakai para driver ojek online saat mendapatkan order.

Lalu beberapa menit kemudian perempuan ini kembali ke warung tempat kami bertemu.
Rona keceriaan tergambar jelas dari wajahnya yang penuh keringat.  Ia mengusapnya dengan tissue yang sepertinya sudah beberapa kali ia gunakan dan ia simpan dalam saku jaketnya.

lalu permpuan ini duduk di bangku panjang dalam warung dan memesan makananan.
Indomie rebus pakai telur dengan  campuran nasi yang ia pesan.

"Alhamdulilah", ujarnya .

Sejak ia keluar rumah jam 10 pagi baru bakda Zuhur ini ia mendapatkan order.

Memang sejak pandemi melanda, order ojek online sangat sepi. Bahkan ia bercerita kalau ada kawan seprofesinya seharian tak dapat order sama sekali. Dan mendapatkannya saat waktu sudah menjelang Maghrib.

Eh, kenalkan ya, nama kawan saya ini adalah Anita (43) (bukan nama sebenarnya ),  Ibu dua orang anak ini berkisah bahwa sudah beberapa tahun ini ia menekuni profesi sebagai driver ojek online setelah ia resign dari sebuah perusahaan swasta.

Suaminya pergi begitu saja tanpa alasan yang jelas, bahkan upayanya untuk mendapatkan keadilan hukum bagi diri dan kedua anaknya sudah ditempuh. Tapi saat jatuh putusan pengadilan suaminya tak mampu memenuhi kewajiban sampai waktu yang telah ditentukan tiba.

Hingga saat ini nasibnya terkatung-katung. mu'allaqoh dalam istiilah islam. Artinya menggantung, dipelihara tidak , dilepas juga tidak.


Nita , nama yang biasa orang memanggilnya, tak putus asa. Ia berharap bisa membayar biaya pengadilan agar bisa segera mendapatkan putusan bercerai dengan suaminya.

Terlihat mata sendu, tampak kelelahan batin menderanya. Sejak 2011 ia menanti putusan suaminya. Tapi semua harapannya terasa sia-sia. Ia tak diperhatikan.

Rumah satu-satunya telah ia kontrakan, dan berencana akan dijualnya. Sementara ia menumpang di rumah ibunya. Tapi sayang di rumah ibunya ada saudaranya yang lain yang tak suka, sehingga ia rela untuk mencari kontrakan dan hidup dengan kedua anaknya .

Kami terus mengobrol tentang berbagai hal, sampai ia menghabiskan makanannya dan beranjak pergi setelah ada notifikasi 'ambil order' di perangkat selulernya.

Dan keramaian lalu lintas kota Semarang seperti menelan kepergiannya. Aspal jalanan panas dan deru mesin berbagai kendaraan mewarnai siang yang sangat panas ini.

Terus berjuang mbak Nita, tak ada kata untuk menyerah. Salam satu aspal ..

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun