Tahun di era 80 an sampai dengan 90 an, saya mengalami masa remaja yang penuh warna. Saat itu saya masih duduk di bangku SMP sampai SMA. Masa masa dimana saya sangat aktif di dunia seni khususnya musik.Â
Sebagai remaja yang sangat aktif dan gemar nongkrong, radio menjadi teman setia . Apalagi masa itu Hp dan Internet belum semarak seperti saat ini, Radio menjadi satu satunya sarana untuk saling berkirim kabar dan berkirim salam. Kirim salam , kirim kabar menjadi semakin romantis dan manis dengan bumbu lagu lagu yang diputar oleh stasiun Radio. So sweet gitu loh.... he..he..he.
Tetapi sejak merebaknya Tehnologi Internet dan HP, stasiun Radio mulai banyak ditinggalkan. Sudah banyak stasiun Radio Berhenti Mengudara. Stasiun Radio kalah bersaing dengan Aplikasi Musik yang ada di HP. Anak Remaja Milenial dan Zilenial tidak lagi tertarik mendengarkan Radio/ Mereka lebih tertarik dengan Tehnologi Audio Visual daripada Tehnologi Radio yang hanya bisa didengar. Pertanyaannya, akankah radio hilang dari peredaran. Akankah  semua stasiun Radio  Berhenti Mengudara?
Sebetulnya fenomena Stasiun Radio Berhenti Mengudara sebetulnya sudah ada sejak tahun 90 an. Saya masih ingat, kala itu saya dan kawan kawan lebih suka mendengarkan Stasiun Radio yang berfrekuensi FM. Radio berfrekuensi FM biasanya sistem suaranya sudah stereo. Bagi saya yang kala itu hoby bermusik maka suara stereo lebih enak didengar dan kualitas suaranya lebih bagus.Â
Radsio pemancae FM mempunyai sinyal yang lebih kuat, sehingga dimana saja kita bisa menangkap siarannya. Dan biasanya Radio FM lebih banyak variasi lagu dan jenis musik. Kala itru Radio berfrekensi AM banyak ditinggalkan penggemar sehingga banyak stasiun Radio AM yang berhenti mengudara. Â Radio FM menjadi pilihan utama bagi pendengar Radio, terutama Generasi Muda.Â
Jaringan Radio FM seperti Elshinta, Prambors, Sonora adalah beberapa contoh Stasiun Radio FM yang punya banyak penggemar. Mereka menggabungkan antara Hiburan dan Informasi. Bahkan ada beberapa Radio FM yang cukup cerdik bermain di ceruk pasar yang khusus contohnya MQFM yang khusunya bernuansa Islami, Hertline FM yang kontennya tentang Agama Kristen , dan Insania FM yang acaranya banyak membahas tentang Pendidikan dan Budaya.Â
Memasuki era tahun 2000an, gempuran hadirnya Tehnogy internet dan HP menyebabkan Stasiun Radio FM juga mulai mengalami penurunan  pendengar. Masyarakat mulai ber alih ke Aplikasi Lagu lagu di HP seperti Resso, JOOXX, Google Play dll. Belum lagi dengan You Tube , masayarakat bisa mendengar lagu sambil melihat video atau visualnya, yang hal ini tidak didapatkan pada saat kita mendengar Radio.Â
Semakin banyak stasiun Radio Berhenti Mengudara. Bagi saya, yang punya kenangan dengan Radio ini sangat menyedihkan. Â Radio dengan berbagai kekurangannya , jika dibandingkan dengan Platform hiburan sekarang, bagi saya sebetulnya tetap relevan dan bermanfaat.Â
Salah satu contoh, jika kita mengendari mobil, Radio menjadi teman setia di perjalanan. Ya, Radio menjadi teman yang menghibur tanpa menggangu kita dalam berkendara. Belum lagi sensasi saat nama kita disebut atau surat kita, salam kita dibacakan oleh penyiar radio. Bagi saya, rasanya perasaan melambung tinggi di udara... ha...ha...ha.
Terlepas dari ancaman eksistensi atau keberadaan Stasiun Radio oleh Platform Hiburan terkini, bagi saya  Radio mempunyai keunggulan tersendiri'Â
1. Mendengarkan Radio tidak menggangu aktivitas kita. Mendengarkan Radio bisa sambil menyetir, memasak , membaca buku berkebun dan lain sebagainya. Radio juga menyiarkan informasi yang singkat dan jelas sehingga tidak memberatkan pikiran pendengar. Radio juga meningkatkan daya imajinasi, seperti kala kita mendengarkan drama Radio seperti  Drama Brama Kumbara ditahun 80an
2. Â Saya merasa ditemani. Berbeda dengan Podcast, stasiun radio mengutamakan pendengarnya. Setipa penyiar radio harus punya kemampuan untuk akrab dengan setiap pendengarnya. Satya tidak merasa kesepian setiap radio diputar. Setiap penyiar radio diwajibkan menyapa pendengarnya yang biasnya punya sebutan sendiri sendiri.Setiap penyiar radio mempunyai cara sendiri sendiri untuk berinteraksi dengan pendengarnya.
3. Update. Salah satu fungsi radio adalah mengedukasi masyarakat. Siaran radio yang live streaming membuat suara penyiar langsung didengar, sehingga berita dan kontennya ter update. Berbeda dengan podcast yang merupakan hasil rekaman. Radio dapat menyampaikan berita berita yang lebih cepat dibandingkan dengan platform lain seperti televisi dan platform streaming video. Ini dikarenakan radio hanya membutuhkan suara, sedamgkan televisi membutuhkan proses visual yang lain.Â
4. Lebih murah. Radio hanya membutuhkan suara . Sreaming Radio online tetap lebih murah dibadingkan televisi atau streaming video lainnya.
5. Fleksibel. Kehadiran smartphone membuat segala hal lebih mudah. Dengan bentuknya yang kecil dan mudah dibawa kemana mana, mendengarkan  radio online lebih fleksibel. Dengan mendengarkan Radio, tidak perlu berjam jam melihat layar Hp. Tinggal diletakkan, kita bisa sambil beraktivitas seperti olahraga, mengemudi, berkebun dan lain sebagainya.Â
Lalu bagaimana agar stasiun Radio tidak berhenti mengudara. Salah satunya, stasiun Radio harus beralih ke Konsep Radio Online. Disamping itu Radio harus mempunyai konten konten yang menarik dan kekinian. Bahkan Radio bisa membuat konsep hiburan Live dengan Live Streaming yang tentunya dikemas dengan informasi yang aktual.  Saya yakin, Radio akan tetap mengudara dan mempunyai pasar tersendiri. Sekali di Udara tetap di Udara!!!
#Wong Ndeso
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI