Namun, tantangan datang tidak hanya dari luar, tetapi juga dari dalam dirinya sendiri. Setiap keputusan yang diambilnya menuntut kompromi antara idealisme dan pragmatisme. Dalam malam-malam yang sunyi, ia sering merenung: Apakah mungkin membawa kebaikan tanpa mengotori tangan?
Jawabannya datang dalam bentuk tindakan. Ia sadar bahwa dunia tidak pernah menjadi hitam atau putih, tetapi abu-abu. Namun, dalam abu-abu itu, seseorang harus tetap membawa terang, meskipun kecil.
Ketika masa jabatannya hampir berakhir, Kertawarna telah berubah. Anak-anak kembali belajar di sekolah yang layak, jalan-jalan desa diperbaiki, dan warga mulai percaya bahwa politik bisa menjadi alat perubahan.
Dalam pidato terakhirnya, Jaka berkata:
"Banyak yang berkata bahwa kekuasaan adalah seni memanipulasi. Tapi saya percaya kekuasaan adalah seni memperbaiki. Bukan untuk diri sendiri, tetapi untuk mereka yang tidak pernah memiliki suara. Jika ada satu pelajaran yang saya pelajari, itu adalah ini: kekuasaan tanpa etika adalah nihilisme. Tapi etika tanpa keberanian untuk bertindak adalah utopia. Maka, marilah kita berjalan di antara keduanya, tanpa kehilangan arah."
Penutup:
Jaka tidak meninggalkan warisan yang sempurna. Ia tidak menciptakan utopia. Tapi ia menunjukkan bahwa di tengah labirin kekuasaan, masih ada ruang bagi logos---akal, moralitas, dan keberanian---untuk menemukan jalannya. Di dunia yang gelap, keberanian untuk memegang kebenaran, meskipun kecil, adalah tindakan yang paling radikal.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H