Dimas mendadak merasa tidak nyaman. "Itu... ya, tapi kamu tidak bisa membandingkan. Pemanasan global adalah fenomena besar, dan cuaca adalah sistem yang sangat kompleks..."
"Seperti tubuh manusia?" potong Laras lagi dengan nada tenang, tanpa berusaha menyudutkan.
Dimas merasa ada yang salah dalam percakapan ini, tapi ia tidak bisa menemukan celah logis untuk membantahnya. Teman-teman lainnya mulai saling pandang, mereka tampak senang melihat si ahli logika yang biasanya tak terkalahkan mulai goyah.
"Baiklah," kata Dimas sambil merapikan duduknya, "itu hanyalah perbandingan tak tepat. Kamu mencoba mengaitkan dua hal yang tidak sebanding."
Laras mengangkat alis. "Oh, jadi logika bisa saja tidak tepat ya? Jadi kamu juga bisa salah?"
Dimas tercekat. Kata-kata Laras sederhana, tapi menampar harga dirinya yang selama ini ia banggakan. "Tentu, aku manusia. Siapa pun bisa salah," katanya pelan, mencoba tetap tenang.
"Kalau begitu, kenapa kamu selalu bersikap seolah-olah kamu tidak pernah salah? Mengkritik semua orang dan memastikan semua hal yang kamu katakan adalah kebenaran mutlak?"
Dimas ingin membantah, tapi tidak ada kata yang muncul. Kali ini, bukan hanya logika yang berperan---Laras telah menyentuh sesuatu yang lebih dalam: kesombongan Dimas. Ia tak pernah sadar bahwa selama ini, ia bukan hanya membangun argumen logis, tapi juga benteng ego yang tak bisa disentuh siapa pun.
Laras tersenyum lagi, tetapi kali ini senyumnya lembut, bukan menyindir. "Dimas, logika itu penting, tapi ada hal-hal lain yang sama pentingnya dalam hidup. Empati, misalnya. Kadang, meskipun logis, kamu tetap bisa menyakiti orang lain jika terlalu keras kepala mempertahankan logikamu."
Dimas menunduk. Selama ini, ia menganggap dirinya sebagai penjaga logika, sang pelurus kesalahan berpikir orang-orang di sekitarnya. Namun, di tengah kesibukannya membuktikan semua salah, ia lupa bahwa dirinya juga manusia---yang bisa salah, yang bisa menyakiti, dan yang mungkin juga butuh kritik.
"Laras," katanya akhirnya, "mungkin kamu benar."