Mohon tunggu...
Mariska Lubis
Mariska Lubis Mohon Tunggu... -

Baru saja menyelesaikan buku "Wahai Pemimpin Bangsa!! Belajar Dari Seks, Dong!!!" yang diterbitkan oleh Grasindo (Gramedia Group). Twitter: http://twitter.com/MariskaLbs dan http://twitter.com/art140k juga @the360love bersama Durex blog lainnya: http://bilikml.wordpress.com dan mariskalubis.wordpress.com

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Dialog Mencari Kebenaran – Apresiasi Buah Pikir Kompasianers (4)

8 Juni 2010   11:30 Diperbarui: 26 Juni 2015   15:40 380
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

Hal ini disebakan juga karena matematika dianggap sebagai perluasan dari logika yang dapat dideduksi dari berbagai konsep logika deduktif, sehingga semua bukti matematis merupakan bentuk penalaran deduktif. Matematika murni sendiri membicarakan konsep-konsep yang semuanya dijelaskan dalam beberapa konsep logika fundamental, di mana semua pernyataan metematika dapat diturunkan dari beberapa kaidah logika, dan semua pernyataan yang pasti (bentuk-bentuk logika) dapat dilihat benar hanya secara analitis yang logis. Sehingga kemudian mengabaikan faktor tidak logisnya.

Saya orang yang optimis dan menganggap segala sesuatu itu mungkin karena ada faktor modality yang bisa diterapkan di dalam logika dan matematika yang merujuk kepada kemungkinan/eksistensi/keharusan dan pada kemustahilan/noneksistensi/kemungkinan sehingga apa yang disebut logis pun harus memasukkan unsur tidak logis di dalamnya.

Oleh karena itulah, saya tidak bisa menyebutkan bahwa angka nol itu sebagai nihil karena segala sesuatu yang ada namun dinihilkan maka efeknya akan sangat panjang sekali. Apalagi bila dihubungkan dengan ketiadaan yang sifatnya real, maka seluruh yang ada sekarang ini, pengetahuan pun hanyalah khayalan, tidak berguna, tak bermakna, relatif, dan tidak signifikan. Tidak ada pengetahuan yang mungkin. Keadaan psikologis dan filosofis di mana nilai-nilai etis, religius, politis, dan sosial pun hilang sama sekali. Menjadi sebuah pandangan yang skpetis atas semua yang dipandang sebagai nyata/tidak nya, pengetahun/kekeliruan, wujud/tak terwujud, khayal/bukan khayal, dan nilai semua distingsi itu disangkal.

Mungkin kita bicara dalam tataran yang berbeda ya… tapi terima kasih banyak ya..

Dialog Mencari Kebenaran – Apresiasi Buah Pikir Kompasianers (2)

Dialog Mencari Kebenaran – Apresiasi Buah Pikir Kompasianers (3)

Salam Kompasiana,

Mariska Lubis

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun