Di suatu siang pada hari Sabtu, mama Ita sedang duduk di belakang rumahnya. Siang itu memang agak terik mataharinya. Panas di Rentung hari itu memang agak lain. Cukup menyengat tubuh. Untuk itulah mama Ita sengaja duduk di belakang rumah untuk sekadar menikmati angin yang menghalau panas.
Di tempat lain, bapa Rinus, suami dari mama Ita, sedang duduk di depan rumah. Mama Ita terakhir kali melihat suaminya itu sedang menikmati segelas kopi ditemani rokok Djitoe Golden. Kebetulan mama Ita tadi yang membawa kopi untuk suaminya itu. Setelah suguhkan kopi, mama Ita langsung bergegas untuk melanjutkan tugas memasak. Setelah memasak, barulah mama Ita duduk santai di belakang rumah.
Tiba-tiba, mama Ita mendengar sayup-sayup lonceng yang berbunyi di kejauhan. Menyadari yang berbunyi adalah lonceng gereja, mama Ita langsung menengok ke dalam rumah, tepatnya jam dinding. Ternyata jarum jam panjang dan pendek kompak menunjuk angka 12. Tanpa basa-basi, mama Ita langsung berjalan pelan ke depan salib Yesus dan patung Yesus dan Maria. Diambilnya korek api, lalu menyalakan lilin yang tepat berada di kaki salib Yesus tersebut. Setelah menyalakan lilin, mama Ita memanggil suaminya untuk turut bersamanya sembahyang Angelus.
"Bapa, mari kita sembahyang Angelus dulu.."
Mama Ita memanggil bapa Rinus, tetapi panggilan itu tidak diindahkan suaminya. Rupanya, bapa Rinus, sedang asyik berbicara dengan temannya melalui telepon. Mama Ita mendengar sekilas bahwa suaminya sedang bercakap-cakap tentang politik yang sedang memanas di Manggarai.
"Bapa, mari datang Angelus dulu! Sebentar baru lanjut telepon lagi!"
Rupanya pada panggilan yang kedua kali itu, nada suara mama Ita sedikit naik. Tujuan mama Ita menaikan nada suara panggilannya supaya orang yang sedang berbicara dengan suaminya itu bisa mendengar suaranya yang memanggil bapa Rinus untuk sembahyang.
Tidak sampai sepuluh detik, bapa Rinus lekas mengakhiri percakapan dengan temannya, menyimpan handphone di atas meja, lalu masuk rumah untuk ikut sembahyang Angelus.
Bapa Rinus dan mama Ita segera sembahyang Angelus. Setelah Angelus, biasanya masih ada sedikit doa permohonan yang dilantunkan oleh bapa Rinus untuk keluarga, untuk anak-anak mereka, dan untuk masalah-masalah aktual yang sedang terjadi. Seperti biasa, kedua orangtua ini sembahyang dengan amat tenang.
Setelah mengakhiri Angelus dengan tanda salib penutup, bapa Rinus langsung mengatakan sesuatu kepada istrinya itu bahwa dirinya tidak enakan dengan temannya yang tadi sedang berbicara lewat telepon.
"Mama, nanti kalau bapa ada bicara lewat telepon, mama jangan teriak-teriak seperti tadi. Teman tadi langsung kaget sewaktu mama teriak-teriak panggilan untuk Angelus".
"Biar bapa, mama sengaja tadi, supaya temannya bapa tadi tahu kalau jam dua belas siang itu jam sembahyang untuk kita yang Katolik", mama Ita menimpali keluhan bapa Rinus sampil berjalan untuk meniup lilin yang bernyala.
"Ia mama, bapa tahu. Tapi jangan teriak seperti tadi. Masalahnya, tadi kami lagi bicara serius", bapa Rinus mencoba membela diri.
"Olee bapa.. Bapa bicara serius apa sejak jam setengah sebelas? Harusnya, biarpun bapa bicara serius lewat telepon, Â bapa wajib beritahu ke teman bapa kalau jam enam pagi dan sore, jam dua belas siang itu sudah menjadi jam tetapnya keluarga untuk Angelus. Kita tidak punya kata 'toleransi' untuk tidak memberi waktu untuk Tuhan. Ada waktu untuk kerja, ada waktu untuk bicara dengan orang lain, tapi ada waktu untuk sembahyang, harus ada waktu untuk Tuhan! Kita mesti pegang prinsip ini".
Bapa Rinus terkejut dengan kata-kata mama Ita, karena baru saja dia menyampaikan uneg-uneg-nya, tetapi istrinya sudah menimpalinya dengan beribu kata. Namun, bapa Rinus juga sadar bahwa dirinya sudah memberi banyak waktu untuk bicara dengan orang lain, dan harusnya dia ingat waktu untuk pergi sembahyang Angelus.
Setelah bermenung sedikit, bapa Rinus teringat akan pesan dari mamanya di suatu hari: "Jangan lupa sembahyang, jangan berhenti sembahyang, teruslah sembahyang".
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI