Ada Apa dengan Hati?Â
     Aku kelelahan. Bayangkan aku harus berlari satu kilometer kemari. Berlari, untuk temui jantung hati. Aku ingat betul kalimatnya tadi pagi: Bergegaslah, sebelum kuberubah pikiran. Pukul 17.00 harus sudah di sini, di tempat biasa kita berbagi. Astaga, aku tak mau itu terjadi. Maka, terpaksa aku berlari menepati janji, meski harus berlari, sebab motorku tiba-tiba mati.
   Aku ngos-ngosan melihat ke sana ke mari, takut ada yang  buntuti. Aku tak mau ada saksi. Pertemuan ini harus terkunci. Terlalu berbahaya jika sampai ada yang ketahui.
   "Sudah lama, di sini?" katanya lembut.
   Aku mengangguk pelan. Tak tahan rupanya jika aku menatapnya lama-lama. Aku terpaksa menunduk.
    "Pandang aku," katanya.
    Wajahku memerah. Aku malu.
    Ia makin dekat. Aku mulai gemetaran. Aku masih takut ada yang membuntuti atau sembunyi-sembunyi merekam kejadian ini. Aku takut! Sungguh!
   "Katakan maumu!" desaknya.
    Aku menghela nafas panjang. Aku masih tak sanggup bersuara. Dadaku sesak.
   "Akan kuberi pintamu!" katanya lagi.
    Aku makin tak berdaya. Aku sungguh malu. Malu, jika ini tidak berhasil.
   "Aku, a...aku, aa... aku mau bilang,  aku cinta kamu," kataku terbata-bata.
    "Ya, bagus-bagus," Rio menggeleng kaget, sepertinya penjiwaanku luar biasa.
    "Kapan diunggah ke youtube?" tanya Rini.
    "Selesai diedit, langsung unggah," jawab Rio.
     Aku terdiam. Terlalu baper. Kurang nyali sejak dulu, Rini jatuh di pelukan sahahabatku.
   "Hubungi aku malam nanti," bisik Rini sebelum berlalu.
    Aku terdiam lagi.Â
22 Juni 2023
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H