Mohon tunggu...
@mar.dov
@mar.dov Mohon Tunggu... Lainnya - Juru ketik

Mengetik untuk menggelitik

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Kartini, Les Femmes, dan Aktivisme Anak Muda

21 April 2021   13:19 Diperbarui: 21 April 2021   13:35 366
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Bagaimanakah anak usia belasan tahun merayakan hari Kartini? Apakah mereka akan memakai kebaya dan berbaju tradisional? Atau mengikuti lomba-lomba: memasak, merias dan yang lebih canggih lomba mengarang, melukis dan berpidato?  Perkenalkan, tiga anak muda yang baru seumur jagung, duduk di SMP kelas 8, dan mereka mempunyai cara sendiri dalam merayakan hari Kartini. 

Ketiga anak muda ini menamai inisiatif mereka sebagai Les Femmes (@the.lesfemmes.project), diadopsi dari Bahasa Perancis yang berarti wanita. Meski rujukan kulturalnya diimpor dari luar sana, namun mereka perhatian sekali dengan apa yang terjadi di negeri ini. Bulan April, mereka meluncurkan sebuah kampanye di Instagram, the.lesfemmes.project yang fokus pada isu-isu pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender. Dan di hari ini, bertepatan dengan hari Kartini lahir, mereka meluncurkan newsletter pertama yang bertajuk Kartini. Alih-alih merayakan hari Kartini dengan mereplika cara berpakaiannya, tiga anak muda ini merayakan Kartini dengan menyambung jiwa dan semangat pembaharu Kartini lewat pesan di newsletter mereka.

Mengapa anak muda ini repot-repot membuat kampanye segala? Umur boleh saja masih seiprit, namun mereka punya ide dan gagasan besar. Mereka ingin berkontribusi terhadap pencapaian SDGs alias Sustainable Development Goals yang dimotori PBB enam tahun belakang. Lebih spesifiknya, mereka ingin turut serta dalam pencapaian tujuan nomor 5 yang fokus terhadap pencapaian kesetaraan gender dan emansipasi. Dalam salah satu postingan mereka menulis, penetapan 17 tujuan SDGs barulah awal. Titik start. Hendak bagaimana finish-nya tergantung pada kerja kita bersama. Tua dan muda, semua bisa bergerak demi menciptakan dunia yang lebih baik, mewujudkan dunia yang lebih aman dan nyaman bagi perempuan dan kaum-kaum marjinal. 

Bagaimana ceritanya anak-anak muda ini bisa berkenalan dengan isu SDGs? Di sinilah letak peranan sekolah. Mereka termasuk yang beruntung karena di sekolah sudah diperkenalkan dengan Sustainable Development Goals. Bahkan mereka punya 1 mata pelajaran khusus untuk mengupas isu SDGs lanjut menginisiasi sebuah gerakan bersama untuk mendukung isu-isu SDGs. Di sekolah, mereka dibiasakan untuk bergerak dan didorong untuk melakukan perubahan-perubahan mulai dari lingkungan terkecil: keluarga, pertemanan, hingga ke tingkatan yang lebih luas. 

Menjangkau publik yang lebih luas sangatlah dimungkinkan di jaman sekarang. Dengan internet, kampanye anak-anak muda sudah melampaui lingkaran pergaulan mereka sehari-hari. Tanpa meninggalkan kursi meja belajar, mereka mampu menjangkau publik dunia. MTV.Com dalam salah satu postingan di tahun 2015 sudah melaporkan soal pencapaian aktivis-aktivis muda ini yang berhasil meraih atensi global lewat aktivisme mereka di media sosial.

Dari beberapa tahun belakang misal, kita mendengar juga bagaimana seorang remaja dari Swedia yang sekarang berusia 18 tahun merebut perhatian dari seluruh penjuru dunia lewat aktivisme di dunia nyata, berikut dunia maya. Meskipun kita tak sepenuhnya fasih bagaimana cara melafalkan namanya, Greta Thunberg itu, namun bisa menyaksikan dia beropini, beradu argumentasi dengan pejabat dunia salah satunya dengan diperantarai akun sosial media. 

Generasi muda, dipasangkan dengan semangat dan idealisme yang membara, diwadahi oleh dunia tanpa batas bernama internet merupakan kombikasi mematikan yang diharapkan dapat merubah dan menggugah dunia. Dulu juga presiden pertama kita, Soekarno, termasuk yang percaya dengan kekuatan para anak muda. Dalam sebuah pidato dulu beliau berujar: "Beri aku 10oo orang tua, akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 anak muda, akan kuguncang dunia."

Kembali lagi, apakah isu SDGs tidak terlalu grand, njelimet untuk diajarkan kepada anak-anak belasan tahun? Jika kita meminta mereka untuk menghafal kata demi kata dokumen SDGs mungkin agak berat dan aduhai membosankan. Namun, apabila kita bisa mengkoneksikan ide-ide dalam SDGs ke dalam pengalaman keseharian mereka, ini jauh lebih gampang dan mengasyikkan. Frase kesetaraan gender mungkin bukanlah bagian dari kosakata dalam percakapan sehari-hari, namun praksisnya, isu ini bisa dirasakan dan dibahasakan. Berkaca pada Kartini, bukankah surat-surat yang dia tulis itu merupakan ekspresi kekecewaan, kemarahan, kemuakan, berikut pikiran-pikiran radikal dari pengalaman personal dia dipingit sejak usia 12 tahun? Meski sekarang sudah langka kita mendengar seorang anak perempuan yang dikunci di rumah begitu, namun anak perempuan jaman sekarang pun punya pengalaman akan diskriminasi, bias gender, dan bahkan kekerasan seksual. Memberdayakan anak-anak muda yang punya perhatian yang genuine akan isu-isu sosial akan memastikan bahwa Indonesia, dan bahkan penduduk dunia, dalam 5 atau 10 tahun mendatang akan menjadi ruang yang aman dan nyaman bagi semua penghuninya. Semoga."  []

DAFTAR RUJUKAN

Muthukumar, Malar. “Social Media and Youth Activism.” Washington University Political Review, 27 Feb. 2020.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun