Mohon tunggu...
Mang Jamal
Mang Jamal Mohon Tunggu... lainnya -

Manusia amatir, tinggal di Bandung, sayang anak, hobi ngakak :)

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Gempa & Rumah Tradisional

27 Mei 2010   09:47 Diperbarui: 26 Juni 2015   15:55 461
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Agar dapat bertahan, mereka harus membangun hunian dengan material yang cocok dengan kondisi alam dan iklim lokal. Selain faktor alam, faktor pola hidup juga memberi bentuk terhadap cara manusia membangun model hunian. Masyarakat peladang berpindah akan berbeda dengan masyarakat petani sawah dan apalagi masyarakat industri dalam caranya mengembangkan hunian.

Masyarakat dengan lingkungan yang sering terjadi peperangan akan membangun benteng pertahanan. Belanda membangun rumah model mereka di Indonesia dengan bukaan lebar dan plafon tinggi untuk mengurangi hawa panas. Masyarakat dengan tanah yang sering gempa akan membangun rumah yang dapat bertahan dari getaran gempa. Rumah tradisional merupakan hasil dari kearifan pragmatis yang telah berlangsung berabad-abad.

Menurut Victor Papanek (1995), arsitektur vernakular-dalam hal ini bangunan tradisional-didasarkan atas pengetahuan praktis dan teknik tradisional, yang menunjukkan kualitas pertukangan tertinggi yang dimiliki. Struktur desain rumah tradisional cenderung mudah dipelajari dan dipahami secara teknis. Material yang dipakai sebagian besar diambil dari lingkungan sekitar.

Dari segi bentuk dan penggunaan material, bangunan tradisional merupakan solusi yang tepat dipandang dari segi ekologi dalam arti cocok dengan iklim, lingkungan-termasuk kemungkinan terjadinya gempa yang didasarkan pada pengalaman-dan cara hidup masyarakatnya. Rumah tradisional tidak bersifat menonjolkan diri, tetapi menyelaraskan diri dengan karakteristik alam sekitar.

Pembuatan rumah tradisional merupakan gabungan dari material, alat, dan proses. Dalam konteks desain tradisional Sunda, tampak bahwa setiap material yang dipakai memiliki karakteristik khas sehingga memerlukan alat khusus yang juga khas untuk mengolahnya melalui pembuatan dan pemasangan tertentu sesuai dengan sifat material dan kemampuan alat. Sifat material dan jenis bambu, misalnya, disesuaikan dengan sifat khas bambu tersebut. Bambu bersifat lentur sehingga dapat bertahan terhadap pengaruh getaran gempa bumi. Perubahan

Bangunan tradisional dipengaruhi oleh budaya masyarakat setempat, terutama dalam tata cara mendirikan bangunan dan perhitungan atau aturan mendirikan bangunan berdasarkan budaya dan kepercayaan setempat, seperti perhitungan waktu yang tepat, arah hadap bangunan, lokasi, fengshui, dan berbagai upacara yang menyertai berbagai tahapan pembangunan.

Meskipun rumah tradisonal berakar pada nilai-nilai tradisional, menyimbolkan kontinuitas di dalam masyarakat, pada bagian tertentu tampak adanya sejumlah perubahan. Contohnya adalah rumah-rumah di Kampung Kuta, Ciamis. Material baru hasil industri seperti kaca, seng, dan kayu lapis secara terbatas telah dipakai, sementara model rumah panggung terus dipertahankan. Selain alasan adat, warga Kampung Kuta juga punya alasan teknis, yaitu karena tanah di kawasan itu labil dan solusi terbaik untuk kondisi alam tersebut adalah tetap dengan model rumah panggung.

Sekarang kita menyaksikan pengaruh pembangunan dan modernisme yang menempatkan model rumah tradisional sebagai sesuatu yang dianggap ketinggalan zaman sehingga perubahan model rumah tidak terelakan, khususnya di luar kampung adat.

Rumah panggung berganti dengan model rumah langsung di atas tanah, yang menyebabkan perubahan berantai: lantai papan berubah keramik, dinding bilik anyaman bambu diganti dengan bata, dan tembok dengan sistem fondasi dan konstruksi sebagian kurang memadai untuk dapat menahan gempa bumi.

Agar dapat bertahan dari goyangan gempa bumi, selain fondasi yang baik, dinding bata minimal memerlukan beton bertulang di sekeliling dinding bata sebagai pengikat struktur, berupa sloof, ringbalk, dan kolom praktis.

Sayangnya, rumah-rumah tembok di pedesaan jarang sekali yang menggunakan konstruksi demikian.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun