Kosong pada latar latar aksara, tidak mereka selalu menyebar suara digaris yang tak rapi dimakan usia, bahkan mereka tak pernah mati, karena mereka tau tuannya menulisnya dengan amarah, hati dan lebih-lebih dengan tragedi.
Diam yang liar dikuasai sang tuan saat menista dirinya dengan syair-syair.
"Diamku kelana pada gaun yang pernah aku kecup diteras bibir muara yang tenang"
Disana aku ciptakan diam yang tidak bisa kubaca sendiri
Tapi dia tak buta
Tidak tuli
Hanya diam tapi senang untuk disenandungkan, apalagi dia yang membacanya
Dia yang pernah aku ciptakan disebagian syair-syair muara
Diamku berkelana...
Di muara
Di pertemuan kita yang lalu
Yang menjadikannya bungkam hingga jadi puisi baku
Malang 23 september 2020
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana. Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI