Para pemimpin Indonesia pada masa silam adalah kreator budaya. Para raja di Jawa, misalnya, dijuluki sebagai narendro sudibyo , pencipta seni dan budaya luhur. Tentu saja budaya populer berselera rendahan juga ada sejak dulu, tetapi para pemimpin pada masa itu tidak ikut tercebur, apalagi menceburkan diri dan ikut arus. Para pemimpin adalah pencipta dan penjaga budaya bangsa yang luhur.
Pencitraan-pengalihan
Indonesia memang aneh, tetapi nyata. Menghadapi kekecewaan dan ketidakpercayaan masyarakat, pemerintah dan aparat negara bukannya meningkatkan profesionalitas, tetapi justru menyuguhkan ”atraksi hiburan”.
Pada saat masyarakat sungguh menuntut perbaikan, perubahan, pembaruan, perombakan, dan pertobatan, pemerintah dan aparatur negara malah menghadirkan lelucon. Lucunya, masyarakat senang-senang saja.
Sudah bisa ditebak, atraksi itu justru dijadikan bahan pencitraan. Norman dengan dukungan segenap korps bisa jadi ”dikemas” untuk membangun citra bahwa polisi Indonesia itu kreatif, ramah, menghibur, tidak keras, tidak kasar, gaul, mengikuti perkembangan zaman, dan menguasai iptek. Maka, modus pencitraan ini jelas merupakan metode pengalihan perhatian.
Bangsa ini sudah penat, letih, dan menderita karena menghadapi berbagai persoalan yang makin parah. Para pemimpin dan aparat yang tak sanggup memberikan solusi, bahkan terkadang mencari untung sendiri di tengah keruhnya masalah, mencoba meninabobokan masyarakat dengan hiburan ringan. Masyarakat terlena dan dosa-dosa para pemimpin pun dilupakan.
Menyedihkan karena bangsa ini digiring menjadi bangsa yang cepat melupakan masalah. Entah semua itu direkayasa atau tidak, kebetulan saja atau diskenariokan, faktanya terjadi banyak pengalihan perhatian yang begitu sistematis.
Saat rencana pembangunan gedung baru DPR masih diperdebatkan dan mengundang reaksi keras, tiba-tiba Briptu Norman naik panggung meredakan tensi penonton (baca: rakyat) di negeri ini. Kebetulankah?
Bangsa ini akan hancur manakala rakyatnya bermental penonton berselera rendahan. Mereka adalah sasaran empuk para pemain sandiwara yang kian hari kian lihai menyentuh dan memainkan emosi tak cerdas penonton.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H