"Mas, kok nggak layat (takziyah)?" Tanya pria itu dengan suara cepat.
"Emang siapa yang meninggal?" Tanya Amir.
"Pengurus majelis taklim yang dulu mas, Â Mas Maman itu lho. Yang sudah lama nggak ke masjid lagi."Â
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun." Kata Amir. Wajah penuh tanda tanya seakan-akan tidak percaya dengan apa yang sudah didengarnya.
"Terakhir ketemu seminggu lalu katanya dia mau ke Surabaya. Katanya ada pertemuan penting. Ndilalah pagi ini ada pengumuman katanya beliau meninggal." Jelas lelaki bersepeda itu.
Seketika itu, ia pun masuk rumah untuk mandi dan berencana bertakziah. Nggak nyangka hidup Maman begitu cepat.Â
Tiba-tiba  matanya tertarik pada tayangan televisi. Sebuah video dan runing teks nampak di layar televisinya menyiarkan sekilas berita. Isinya "Telah tewas tertembak pasukan Datasemen 88. Seseorang terdua teroris berinisial Ujang, Alias Umar Alias Maman. Korban tertembak di bagian dada karena melawan petugas ketika hendak ditangkap di perumahan elit di kawasan Jalan Dr. Sutomo, Surabaya."
Seketika itu hatiku berdegub kencang. Mengamati tayangan berita dan running text yang begitu cepat berganti dengan berita lain. Pikiranku tiba-tiba tertuju pada sahabatku Maman yang kini diketahui telah tewas.Â
"Apakah Maman temanku itu salah satu korbannya?" Tanya Amir dalam hati.
Seketika itu dia mengelus dada, jika benar berita itu, sungguh dugaan rasa takutnya Amir pada temannya sudah terbukti bahwa dia salah memilih jalan dalam bernegara.
"Walah Maman-Maman, kog kamu ngeyel toh? Ya Allah, Semoga saja arwahnya diterima di sisi-Mu. Aamiin."