Kali ini Gus Mut melihat Cak Dlahom menangis sambil meraung-raung didekat makam istri Bunal, " Ya Allah ampuni diriku... Ampuni orang-orang kampung ini..."Â
Keesokan harinya Cak Dlahom mundar-mandir menggotong sekarung tanah lalu menumpahkannya di halaman masjid, pergi dan datang lagi melakukan hal yang sama dan seterusnya.Â
Awalnya warga biasa saja melihat tingkah Cak Dlahom, sampai akhirnya mereka geram karena tahu tanah yang ditumpahkan depan halaman masjid adalah tanah kuburan istri Bunali. Pak RT yang hanya diam melihat tingkah Cak Dlahom akhirnya menegur.
"Cak, itu tanah kuburan untuk apa dibawa kemari ? " ucap Pak RT
"Tidakkah masjid ini butuh sumbangan untuk diperluas Pak RT ? " ucap Cak Dlahom
" Iya, tapi tidak butuh tanah Cak..."
" Jadi butuhnya apa? sumbangan uang? Sumbangan semen? sumbangan besi? Kayu?... Tanah ini dari kuburan janda Bunali. Dia menitipkan pesan agar tanah kuburnya disumbangkan ke masjid agar masjid ini bisa megah. Lalu apakah kita akan menolaknya?..."
" Bukan begitu Cak, kami tidak butuh tanah. Apalagi tanah makam, untuk apa? "
" Agar masjid kita diperluas, Pak RT. Agar kita bangga punya masjid besar dan megah. "
" Masjid kita sudah jelek, Cak. Perlu direnovasi...."
" Betul, Pak RT. Merenovasi masjid kini lebih penting ketimbang memperbaiki dan memperbagus kelakuan. Umat sekarang diajak tergantung pada masjid ketimbang masjid tergantung pada umat. Diajak membangun masjid, tapi membiarkan 0rang-orang seperti istri Bunali terus tak berdaya lalu mati. Diajak rela menyodorkan sumbangan kemana-mana untuk membangun masjid, tapi membiarkan Sarkum anak Bunali tidak sekolah dan kelaparan. Kita bahkan tidak menjenguknya. Tidak Pernah tahu keadaan mereka. Lalu apa artinya sesungguhnya arti masjid ini bagi kita? Apa ari kita bagi masjid ini?"