Selain itu, militer AS juga telah menyewa lima pangkalan militer filipina, yang telah memungkinkan AS untuk membangun fasilitas militer permanen di sana, sementara juga menyediakan pasokan dan pemeliharaan misi. Pangkalan militer ini terutama tersebar di sepanjang sisi yang berhadapan dengan LTS.
Saat ini AS khawatir apakah Tiongkok akan menyiapkan sesuatu untuk menghambat itu atau tidak, karena beberapa tahun terkahir, AS telah mengusulkan strategi India-Asia-Pasifik, yang berarti akan menjadi sistem keseluruhan dari Samudra Hindia ke Samudra Pasifik dan kemudian ke Asia. Strategi AS kembali ke Asia-Pasifik akan mencakup Samudra Hindia.
Tetapi, jika Tiongkok benar-benar memberlakukan hambatan di LTS untuk menghambat AS, jika tidak memiliki strategi Asia-Pasifik, maka itu berarti semua upaya akan sia-sia, karena LTS beperan setidaknya 60% dari kapal dunia dan pesawat melewati kawasan ini setiap tahunnya.
Dalam rangka menerapkan strategi untuk menyeimbangkanAsia-Pasifik, AS memanupulasi arbitrase LTS yang cacat hukum (lelucon), sehingga menyebabkan ketegangan di LTS. Ini semua oleh pengamat ditengarai suatu Alarm untuk terperangkap dalam “Perangkap Thucydides” yang terjadi antara dua kekutan mampan dan kekuatan yang baru muncul, sudah mulai terdengar....
Pada 24 Juli 2106, Wakil Ketua Komisi Militer Pusat Tiongkok –Fan Changlong memperingatkan Presiden AS dan Penasehat Nasional Keamanan AS—Susan Rice yang mengujungi Beijing bahwa ada resiko konflik antara militer Tiongkok dan AS.
Jika dilihat AS dan Tiongkok adalah dua kekuatan raksasa, jadi jika mereka jadi bertarung bisa membuat bumi bergetar. Demikian menurut sebagian analis berbisik. Banyak kaum pasifis mengharapkan kedua raksasa ini harus menghindari situasi yang tidak diharapkan ini. Kedua belah pihak harus mempertahan terbuka, membangun saluran komunikasi yang jelas, dan mengelola setiap peningkatan ketegangan dengan baik, konflik kepentingan harus dilakukan dengan penanganan yang lebih kongrit profisional, mengontrol setiap gesekan yang tak terduga yang mungkin terjadi, karena gesekan demikian bisa menjadi bencana.
Sebelum Susan Rice Penasehat Keamanan Nasional AS mengunjungi Tiongkok, ia mengatakan kepada Reuters bahwa AS berjanji untuk melanjutkan patroli dan operasi di LTS. Setelah Rice kembali ke AS, dia menulis sebuah artikel yang menjelaskan pentingnya hubungan AS-Tiongkok.
Rice menuliskan: “Ketika Tiongkok dan AS bekerjasama, dunia akan menjadi lebih aman, dan bangsa kita akan menjadi lebih sejahtera. Kesuksesan kita tidak perlu menjadi zero-sum game (pertarungan kamu harus kalah mati). Karena kita bekerja untuk mengurangi perbedaan-perbedaan kita. Ketika kita melakukan ini, negara kita dan semua orang-orang di dunia akan mendapat keuntungan.”
Jadi yang perlu disadari jika terjadi oposisi perlu dikedepankan dengan ritme yang baik, agar tidak terus meningkat. Sama seperti ketika AL Tiongkok dan Al-AS sedang bersitegang saling mencabut pedang, Komandan Operasi AL-AS John Richardson mengujungi Tiongkok.