lupa," ujar Adinda pelan.
"Iya, Bu. Adin"Lain kali, kalau ada PR langsung dikerjakan sepulang sekolah. Jadi nggak akan lupa."
"Iya, Bu." Gadis cilik itu mengangguk.
"Tadi Timo bikin PR di sekolah, Bu," ceplos Adinda tiba-tiba.
"Maksudmu, Timo enggak bikin PR di rumah?" Bu Desi mengangkat kepala dan memandang Timo yang tertunduk di bangku. "Betul, Timo?"
Bocah laki-laki berambut ikal itu bergeming. Ia tidak berani memandang Bu Desi.
"Tadi Adin lihat dia baru membuatnya di kelas, Bu," tambah Adin lagi.
"Timo, coba kamu kemari," panggil Bu Desi tegas. Ia prihatin dengan kejujuran murid-muridnya dalam mengerjakan PR.
Timo menatap Adinda cemberut. Dengan enggan ia maju menghampiri bu guru.
"Coba kamu cari buku PR kamu di sini," kata Bu Desi menyerahkan sisa buku yang belum diperiksa.
Timo segera mengambil bukunya dan menyerahkan pada bu guru.
Bu Desi membaca sekilas. "Benar yang dikatakan Adinda, Tim?" tanya Bu Desi.
Timo tertunduk di sebelah Adinda. "Iya, Bu," katanya jujur.
"Kenapa, Tim?" tanya Bu Desi sambil bersandar di kursi. "Kamu tahu arti PR?"
"Pekerjaan rumah, Bu," jawab Timo pelan.
"Artinya tugas untuk dikerjakan di rumah. Bukan di sekolah," kata Bu Desi tegas.
Timo mengangguk.
"Saya kelupaan, Bu. Jadi saya cepat-cepat ke sekolah dan membuatnya," kata Timo polos.
"Itu namanya lalai, Timo. PR adalah bentuk tanggung jawab. Jadi, meskipun kamu sudah mengerjakannya, tapi nilaimu jadi berkurang. Ngerti?"
"Iya, Bu. Saya mengaku salah," kata Timo. "Saya minta maaf, Bu."
Bu Desi mengangguk. Ia menoleh pada gadis cilik di sebelah Timo.
"Adinda, kamu ulangi lagi PR ini, ya. Jangan minta mama mengerjakannya." Bu Desi menyerahkan buku bersampul pink itu. Adinda mengambilnya dan mengangguk.
Bu Desi memandang ke sekeliling kelas. "Perhatian, Anak-Anak. PR adalah latihan untuk tanggung jawab dan kejujuran. Jadi, kerjakanlah sendiri, ya. Jangan minta mama atau papa untuk mengerjakan. Ibu sangat menghargai kejujuran kalian. Mengerti, Anak-Anak?"
"Mengerti, Bu Guru," jawab murid-murid serempak.
"Nah, Adinda dan Timo, kalian sudah bisa kembali ke bangku masing-masing. Jangan diulangi lagi, ya?"
 Kedua murid itu mengangguk penuh penyesalan. "Baik, Bu Guru," kata mereka serempak.
=Tamat=
Kotabaru, 21 November 2022
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H