Jika Anda seorang guru, pasti Anda pernah merasa galau ketika melihat hasil ujian siswa yang Anda ajar mendapatkan nilai yang tidak sesuai harapan Anda.
Biasanya, kegalauan diikuti dengan rasa penasaran ingin mencari apa kiranya penyebab siswa mendapat nilai yang kurang baik.Â
Apakah karena guru yang tidak mampu mengajar dengan baik? Atau apakah mungkin karena siswanya yang memang kurang belajar dengan baik?
Mengapa Siswa Mendapat Nilai Kurang Baik?
Guru yang tak mau disalahkan biasanya akan mencari pembenaran. Pertama, dia akan melihat nilai rata-rata kelas. Jika nilai rata-rata kelas baik, biasanya itu akan dijadikan dalih bahwa sebenarnya siswa mendapatkan nilai kurang baik karena memang siswa kurang belajar.
Jika seluruh siswa di kelas sama rata mendapatkan nilai yang kurang baik, mungkin guru akan berdalih bahwa soalnya terlalu sulit, atau bahkan ada kesalahan pada soalnya.
Intinya, selalu ada pembenaran yang dicari, selalu ada alasan untuk menghindari kemungkinan bahwa dirinya yang tidak mampu memberikan pembelajaran yang baik kepada siswanya.
Untungnya, tidak banyak guru yang seperti ini. Ada juga guru yang merasa bahwa sebenarnya akar permasalahan ada pada dirinya sebagai guru. Siswa yang gagal mendapatkan nilai yang baik berarti belum benar-benar memahami pembelajaran yang dilakukan guru di dalam kelas.
Meskipun terkadang ada siswa yang mendapat nilai kurang baik memang karena kemalasan siswa itu sendiri, tetap saja terkadang ada perasaan bersalah juga pada guru. Guru merasa bersalah karena tidak mampu memberikan motivasi belajar yang baik kepada siswa tersebut.
Sejatinya, esensi seorang guru tidak hanya bertugas mengajarkan materi pelajaran kepada siswa. Guru juga bertanggung jawab memberikan nilai-nilai moral melalui pendidikan karakter kepada siswa.Â
Memberikan motivasi siswa untuk belajar adalah juga sebagai salah satu bentuk penanaman nilai-nilai karakter. Jadi, guru bukan sekadar mengajarkan siswa, tetapi juga mengajarkan siswa untuk belajar.
Guru yang memiliki pola pikir seperti ini akan memuhasabah dirinya ketika ada siswanya yang tidak mendapatkan nilai yang baik. Guru seperti ini tidak mencari pembenaran, tetapi mencari akar permasalahan untuk disolusikan. Mungkin guru yang seperti inilah yang bisa dikatakan guru yang mendapatkan tamparan kasih sayang dari Tuhan.
Tamparan Kasih Sayang Bagi Guru
 Apa maksudnya tamparan kasih sayang?
Tamparan kasih sayang adalah sebuah istilah yang digunakan Ustad Bediuzzaman Said Nursi pada cahaya kesepuluh dalam kitabnya yang berjudul Al-lama'at. Menurut Ustad, tamparan kasih sayang adalah pelajaran yang diterima seseorang yang bekerja dalam rangka mengabdi kepada agama. Tamparan kasih sayang ini terjadi akibat kesalahan dan kelalaian mereka sebagai seorang manusia.
Lebih jauh Ustad Bediuzzaman Said Nursi menjelaskan bahwa musibah yang menimpa seseorang yang mengabdi kepada agama sebagai peringatan Tuhan dan teguran atas sikap futur (patah semangat) mereka dalam pengabdiannya.
Itulah mengapa nilai kurang baik yang didapatkan siswa sejatinya menjadi tamparan kasih sayang bagi seorang guru. Guru juga manusia, yang dalam pengabdiannya kepada pendidikan terkadang mengalami kesalahan dan kelalaian, atau mungkin juga kehilangan semangat dalam mendidik.
Beginilah seharusnya seorang guru menyikapi siswa yang mendapatkan nilai yang kurang baik. Pertama-tama guru harus menyadari bahwa salah satu penyebabnya adalah dirinya sendiri sebagai guru. Maka untuk melakukan perubahan dan perbaikan haruslah dimulai dari dirinya terlebih dahulu.
Lantas langkah kongkrit apa kiranya yang perlu diambil oleh seorang guru untuk menangani hal ini?
Pertama, guru harus bisa mengintropeksi diri. Guru harus bisa melihat kembali, mengevaluasi, dan merefleksikan pembelajaran yang dilakukannya di dalam kelas. Guru juga bisa menganalisis apa kelebihan dan kekurangannya dalam memberikan pelajaran.
Untuk melakukan ini, terkadang guru perlu masukan dari teman-teman sejawatnya atau orang-orang yang memang berkompeten untuk memberikan masukan. Ini diperlukan karena terkadang seseorang tidak mampu melihat kekurangan yang ada dalam dirinya sendiri. Ada benarnya kata pepatah "gajah di pelupuk mata tak terlihat, tapi semut di seberang lautan yang terlihat."
Kedua, guru juga harus melakukan komunikasi dengan siswa. Guru harus bisa bicara dari hati ke hati dengan siswa, bukan menghakimi. Permasalahan yang sebenarnya yang dihadapi siswa harus bisa terkuak.Â
Untuk melakukan ini, terkadang guru perlu juga masukan dari siswa-siswa yang lain ataupun masukan dari orang tua. Ini diperlukan untuk bisa memahami permasalahan siswa dari berbagai sisi dan sudut pandang. Sudut pandang yang berbeda biasanya akan membuat guru lebih bisa memahami permasalahan siswa lebih mendalam.
Ketiga, guru dan siswa membuat perencanaan program perbaikan. Setelah guru memahami duduk permasalahan dengan baik, rencana program perbaikan yang dilakukan akan bisa lebih efektif. Langkah terakhir ini akan bisa maksimal jika langkah pertama dan kedua sudah dilakukan dengan baik.
Artinya, guru dan siswa sama-sama sudah mengetahui kekurangannya masing-masing. Jika keduanya sudah menyadari hal ini, maka sinergi akan terbangun dengan baik antara guru dan siswa. Pada akhirnya program perbaikan yang direncanakan akan berjalan dengan baik dan akan bisa membawa perubahan yang signifikan pada diri siswa
Alhasil, tamparan tidak selalu menyakitkan, terkadang tamparan justru membawa manfaat bagi kita. Bagi seorang guru, jika ada siswa yang mendapatkan nilai kurang bagus, maka bersyukurlah, karena berarti guru masih diberi kesempatan untuk berbenah dan memperbaiki diri.Â
Kita pasti paham bahwa orang yang baik bukanlah orang yang tak pernah melakukan kesalahan. Orang yang baik adalah orang yang menyadari kesalahannya dan berusaha untuk memperbaikinya. Tamparan kasih sayang adalah anugerah dari Tuhan agar kita menyadari kesalahan dan mencoba untuk memperbaikinya.
[Baca Juga: Vaksinasi Dimulai, Mari Belajar dari Semut Gurun]
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI