Bicara tentang tujuan hidup, tentu saja tidak sesederhana mengucapkannya. Jangankan membahas tujuan hidup yang menjadi target sasaran dari seluruh kumpulan umur dan himpunan usia kita, bicara tentang tujuan mudik ke kampung halaman saja bisa menguras segala hal; tenaga, pikiran, uang dan lain-lain. Bagaimana pula mengatakan bahagia dan tujuan hidup sebagai gratis dan sederhana?
Maka, mengatakan tujuan hidup adalah menjadi bahagia, berarti ada kemungkinan bisa didapatkan ada kemungkinan tidak. Jika kebetulan didapatkan, itulah yang diharapkan. Tetapi jika kebetulan bahagia tidak atau belum didapatkan, maka di sini tantangan hidup yang sesungguhnya.
Ketika faktanya memang tidak bahagia, Â kejujuran akan mengurai kerumitannya, meskipun membutuhkan banyak biaya. Kalimat teoretis ini mirip seperti menjawab pertanyaan dokter ke pasien tentang rasa sakit yang diderita. Apakah mau menyembunyikan dan membohongi diri sendiri dan dokter tentang sakit yang diderita, atau jujur dengan sakit yang dirasa?
Memilih tidak jujur, maka siap-siap dengan semakin parahnya penyakit. Memilih jujur maka siap-siap dengan konsekuensi biaya. Dua-duanya mengandung akibat yang harus ditanggung oleh sang pasien. Keadaan ini tidak begitu susah dan tidak perlu dijadikan dilema. Kebanyakan orang akan memilih jujur dengan penyakitnya, berapa pun biayanya. Itu urusan belakangan saja.
Jika tentang sakit saja bisa jujur, maka lebih-lebih dengan bahagia sebagai tujuan hidup. Jujur di dalamnya tentu menjadi penting apa pun konsekuensinya. Sehingga jika memang tidak bahagia maka katakanlah tidak bahagia. Begitu  mengakuinya, alam bawah sadar akan bekerja mencari cara bagaimana mengubahnya menjadi bahagia, cepat ataupun lambat.
***
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H