Mohon tunggu...
Lygia Pecanduhujan
Lygia Pecanduhujan Mohon Tunggu... Penulis - Creative Writer, influencer, Blogger, Content Contributor, Social Worker, Backpacker, Founder Digiefood Indonesia, Founder of Baklavanesia

Bookografi A Cup of Tea for Single Mom (Stiletto Books, 2010), A Cup of Tea for Complicated Relationship (Stiletto Books, 2011), Storycake for Ramadhan (Gramedia Pustaka Utama, 2011), Emak Gokil, the Anthology (Rumah Ide, 2011), For the Love of Mom, the Anthology (2011), Storycake for Amazing Mom, the Anthology (Gramedia Pustaka Utama, 2011), Hot Chocolate for Broken Heart (Cahaya Atma Pustaka, 2012), Hot Chocolate for Dreamers (Cahaya Atma Pustaka, 2012), Storycake for Backpackers (Gramedia Pustaka Utama, 2013), Balotelli versus Zlatan (Grasindo, 2013), Jurus 100% Pensiun Kaya (Bisnis Sapi) with Raimy Sofyan (Grasindo, 2014), Ronaldo versus Messi, duet with Astri Novia (Grasindo, 2014), World Cup Attack (Grasindo, 2014), AC Milan versus Inter Milan (Grasindo, 2014), Van Persie versus Luiz Suarez (Grasindo, 2014), 101 Kisah Cinta Sepanjang Masa (Grasindo, 2014), As Creative as Steve Jobs (Grasindo, 2014), Peluk ia Untukku (ghostwriter) (Grasindo, 2014), Peruntungan Cinta Menurut Zodiak & Shio di Tahun Kambing 2015 (Menggunakan nama pena: Tria Astari, Penerbit Grasindo, 2015), 50 Ritual Malam Miliader Dunia bersama Honey Miftahuljannah (Grasindo, 2015)

Selanjutnya

Tutup

Nature Artikel Utama

Kompasiana Nangkring: RISHA, Kau Berada di Mana?

15 Mei 2015   23:50 Diperbarui: 17 Juni 2015   07:00 267
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Kompasiana Nangkring: RISHA, Kau Berada di Mana? - Tidak ada banyak orang yang tahu bahwa nun di tengah kota Bandung, tepatnya hanya berjarak beberapa meter dari Trans Studio yang lokasinya menjadi satu dengan Trans Studio Mall, Hotel Ibis, dan Hotel Trans yang nyaris tak pernah sepi pengunjung, ada sebuah tempat yang menyimpan banyak hal menarik di dalamnya. Sebuah tempat yang cukup megah, luas, asri, namun saya mungkin tidak tahu tempat semacam apakah itu jika suatu hari tidak mendapatkan undangan Event Kompasiana Nangkring Bersama Kementerian PUPR.

Di pagi hari yang sangat cerah saat itu, saya seperti memasuki dunia baru yang membuat saya merasa ‘gegar’. Tepat pukul 07.00 pagi, kaki saya telah menjejak halaman Grha Wiksa Praniti, Puslitbang Permukiman, Badan Litbang Pekerjaan Umum, yang terletak di Jalan Turangga no. 5-7 Bandung.

Tenang saja, penampakannya tidak “seseram” namanya. Setidaknya, seperti itulah kesan yang pertama kali saya tangkap ketika kaki saya melangkah menuju area gedung yang masih sepi. Mungkin sayalah peserta pertama dari event Kompasiana Nangkring bersama Kementerian PUPR hari itu, yang merupakan salah satu acara dalam rangkaian Kolokium Kementerian PUPR yang mengambil tema “Mengupas Penerapan Teknologi Hasil Litbang Bidang Permukiman: Inovasi Teknologi Dalam Mewujudkan Permukiman Layak Huni dan Berkelanjutan (Program Permukiman 100-0-100)”.

Sebelum acara dimulai, saya dan rekan-rekan #KBandung berkesempatan untuk melihat-lihat pameran yang ada di bagian dalam Grha Wiksa Praniti tersebut. Pertama kali melihat pameran itu, seketika saya langsung merasa takjub. Betapa tidak, pameran semenarik itu, yang dipenuhi oleh berbagai teknologi menarik seputar pemukiman, teknologi pengolahan air limbah, hingga drainase permukiman ramah lingkungan dengan Sub-Reservoar Air hujan, sangat sepi pengunjung. Gaungnya nyaris tak terdengar dibanding hingar bingar teriakan para pengunjung Trans Studio Mall yang asyik bermain beraneka wahana permainan yang sejujurnya bagi saya sama sekali tak ada apa-apanya dibanding pameran itu, selain hanya merupakan sarana hiburan semata.

[caption id="attachment_365998" align="aligncenter" width="300" caption="Pintu Masuk Menuju Dunia Teknologi (Foto Dok. Pribadi)"][/caption]

[caption id="attachment_365997" align="aligncenter" width="410" caption="Mejeng Dulu Sebelum Acara Dimulai (Foto Dok. Pribadi)"]

1431709170733340817
1431709170733340817
[/caption]

Ketika acara bincang-bincang bersama Kementerian PUPR yang diberi tajuk “Kompasiana Nangkring bersama Kementerian PUPR” itu dimulai dan dipandu oleh Mbak Wardah Fajri dari Kompasiana Jakarta, saya memilih duduk paling depan untuk mendengarkan ilmu yang bagi lulusan fakultas Hukum seperti saya adalah ilmu yang sama sekali baru.

[caption id="attachment_366000" align="aligncenter" width="300" caption="Narasumber dari Kementerian PUPR (Puslitbang Puskim). Foto Dok. Pribadi"]

14317103501822072879
14317103501822072879
[/caption]

Narasumber yang hadir saat itu adalah Bapak Sarbidi, Bapak Iwan, dan Bapak Budiono yang merupakan perwakilan dari Kementerian PUPR dan Puslitbang Puskim. Mereka dengan sigap menjelaskan program-program Kementerian PUPR dan berbagai inovasi teknologi yang telah mereka hasilkan dalam rangka mewujudkan visi dan misi pemerintah khususnya dalam bidang permukiman, yaitu mewujudkan permukiman yang layak huni dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

[caption id="attachment_365999" align="aligncenter" width="300" caption="Water Tapp, Teknologi Pengolahan Air Hujan Menjadi Air Siap Minum di Lingkungan Puslitbang Puskim Kementerian PUPR (Foto Dok. Pribadi)"]

1431710209155306995
1431710209155306995
[/caption]

Konsep yang diusung oleh Puslitbang Puskim Kementerian PUPR dalam mewujudkan visi dan misinya itu salah satunya adalah dengan melaksanakan Program Permukiman 100-0-100 di mana maksudnya adalah 100 sistem pengolahan air dengan 0 permukiman kumuh dan 100 bangunan RISHA (Rumah Instan Sederhana Sehat).

Untuk mewujudkan sistem pengolahan air, Pihak Puslitbang telah menciptakan sebuah inovasi teknologi pengolahan air limbah, salah satunya melalui sistem Bio Filter, di mana teknologi tersebut telah mampu mengolah air limbah rumah tangga menjadi air yang dapat digunakan kembali dalam rumah-rumah tangga.

[caption id="attachment_366001" align="aligncenter" width="300" caption="(Foto Dokumen Pribadi)"]

1431710412119071316
1431710412119071316
[/caption]

Untuk membuat angka Zero bagi permukiman kumuh, pemerintah sendiri melalui Puslitbang Puskim telah menciptakan teknologi RISHA yaitu Rumah Instan Sederhana Sehat di mana rumah tersebut sangat mudah dibangun, dengan harga yang jauh lebih terjangkau. Kunci yang dipegang pemerintah dalam mengembangkan teknologi ini adalah Menekan biaya serendah mungkin, menjaga mutu dengan berbagai standar, dan dapat dibangun dalam waktu cepat.

Soal waktu, tidak usah diragukan lagi, karena telah terbukti, RISHA dibangun dengan teknologi pracetak yang dapat dibongkar pasang (knockdown). Membutuhkan 3 panel utama dengan ukuran dan jumlah yang berbeda-beda sesuai kebutuhan, RISHA dapat dibangun kurang lebih hanya dalam waktu 7 hari saja. Bahkan, RISHA dengan tipe 36 dapat dibangun dalam waktu 24 jam jika semua komponennya telah tersedia. Tak hanya itu, RISHA ini dapat dipindahkan ke lokasi yang berbeda lho! RISHA pertama kali dibangun dan diujicobakan di Nangroe Aceh Darussalam (NAD) pada saat terjadi Tsunami dan gempa di tahun 2004 silam. Saat ini, contoh Rumah RISHA juga dapat ditemui di Kampung Petogogan, Jakarta.

[caption id="attachment_366002" align="aligncenter" width="300" caption="Contoh RISHA yang Ada di Halaman Grha Wiksa Praniti, Bandung (Foto Dok. Pribadi)"]

14317105001981333491
14317105001981333491
[/caption]

Salah kalau ada yang mengira bahwa RISHA hanya dapat dipakai untuk bangunan rumah semata, karena pada kenyataannya, RISHA telah dipakai menjadi bangunan rumah, sekolah, hingga poliklinik. Saat ini baru ada empat lokasi aplikator RISHA di seluruh Indonesia, yaitu di Padang, Bogor, dan 2 lokasi berada di Bandung.

Huft, rasanya waktu sedemikian cepat berlalu, karena saya masih asyik mendengarkan penjelasan dari para narasumber, dan sesekali mengambil foto. Saya takjub ketika menyadari bahwa air minum yang digunakan di lingkungan Puslitbang Puskim adalah air minum yang berasal dari airhujan yang diolah sedemikian rupa dengan inovasi dan teknologi hingga menjadi air layak minum!

Hari menjelang siang ketika kami bergeser menjauhi lokasi dan berpindah sekian ratus kilometer menuju Desa Sindang Pakuon, Kecamatan Cimanggu, Sumedang, yang menjadi tempat proyek percontohan Risha dan Teknologi Pengolahan Air serta Drainase Permukiman yang ramah lingkungan, di mana lokasi tersebut juga menjadi salah satu lokasi dari empat Aplikator RISHA yang ada di Indonesia.

[caption id="attachment_366003" align="aligncenter" width="300" caption="Salah Satu dari Empat Aplikator RISHA, Hasil Kerjasama dengan Korea (Foto Dok. Pribadi)"]

1431710594674553743
1431710594674553743
[/caption]

14317107111671264048
14317107111671264048

[caption id="attachment_366005" align="aligncenter" width="300" caption="Ada 3 Jenis Panel yang Diproduksi di Lokasi Aplikator RISHA (Foto Dokumen Pribadi)"]

14317107111671264048
14317107111671264048
[/caption]

[caption id="attachment_366006" align="aligncenter" width="300" caption="Teknologi Pengolahan Air DAS Citarik, Desa Sindang Pakuon, Sumedang (Foto Dok. Pribadi)"]

1431710778911670522
1431710778911670522
[/caption]

Di desa Sindang Pakuon inilah program Kementerian PUPR dilaksanakan, seperti membangun MCK, RISHA, dan sistem pengolahan limbah dan air hujan. Hasilnya didistribusikan kepada seluruh masyarakat desa. Sementara biaya operasionalnya berasal dari hasil mengolah air menjadi air siap minum yang dijual dan kelak keuntungannya akan dipakai untuk membiayai proyek tersebut.

[caption id="attachment_366007" align="aligncenter" width="300" caption="MCK Percontohan yang Dibangun Oleh Puslitbang Puskim di Desa Sindang Pakuon (Foto Dokumen Pribadi)"]

1431710866392147208
1431710866392147208
[/caption]

Hingga jelang senja, dan saya bersama seluruh KBandung bertolak pulang kembali ke Bandung, benak saya masih saja dipenuhi beragam info yang saya dapat seharian itu. Luar biasa, hanya itu yang mampu terucap lirih dari mulut saya di sela rasa lelah luar biasa yang menyerang.

Sungguh, saya merasa sangat beruntung bisa menjadi bagian dari Kolokium yang diadakan oleh Puslitbang Puskim Kementerian PUPR tersebut, meski rasanya saya sangat terlambat entah berapa puluh tahun. But, beter late than never, right?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Nature Selengkapnya
Lihat Nature Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun