Mohon tunggu...
Listhia H. Rahman
Listhia H. Rahman Mohon Tunggu... Ahli Gizi - Ahli Gizi

Lecturer at Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Holistik ❤ Master of Public Health (Nutrition), Faculty of Medicine Public Health and Nursing (FKKMK), Universitas Gadjah Mada ❤ Bachelor of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro ❤Kalau tidak membaca, bisa menulis apa ❤ listhiahr@gmail.com❤

Selanjutnya

Tutup

Kurma Pilihan

Curhat: Sedih, tapi Ramadan Kali Ini Bukan Hanya Saya yang Tidak Mudik

5 Mei 2020   22:06 Diperbarui: 5 Mei 2020   22:06 420
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi | unsplash.com

Ketika sesuatu itu sudah dinantikan dan menjadi kebiasaan tetapi harus ditiadakan. Mudik.

Ramadan kali ini benar-benar diajarkan untuk lebih banyak belajar ikhlas. Ikhlas untuk tidak dulu pergi mudik, misalnya. Ya. Menjadi perantau di kota orang tentu membuat pulang kampung jadi sesuatu yang wajib terlebih di momen yang spesial di bulan Ramadan dan Lebaran. Hal yang selalu menjadi obat pelunas rindu yang kini harus ditunda dulu.

Kondisi keluarga besar memang rata-rata adalah perantau. Maka tidak heran, jika momen mudik pasti jadi sesuatu yang sama-sama kami tunggu. Sama-sama ingin kami segerakan untuk bertemu. Jangankan keluarga besar, orangtua saya sendiri pun harus terbiasa dengan anak-anaknya (kakak dan adik saya) yang harus jauh di mata karena berada di luar kota. Kakak yang ada di Balikpapan dan Adik yang di Magelang tetapi tidak bisa pulang.

Di Ramadan kali ini dan lebaran nanti, saya akan merasakan tidak hanya tidak bisa bertemu dengan keluarga besar yang lain tetapi juga adik dan kakak saya sendiri. Kedua saudara kandung yang begitu saya cintai. Sedih memang tidak bisa berjumpa secara raga tetapi setidaknya masih bisa tersambung lewat teknologi. 

Begitupun dengan nasib saudara yang lainnya. Beberapa waktu yang lalu, saudara saya (yang kebetulan seumuran, hanya terpaut dua minggu) di Jakarta mengirim pesan. Menanyakan perihal kepulangan ke kampung halaman.

Saya tahu, saudara saya ini sebenarnya sudah tahu apa jawabannya. Saudara saya yang sengaja mengajak untuk mengenang bagaimana biasanya kami bertemu di waktu mudik di tahun-tahun sebelumnya. Membuat kami sama-sama saling memberikan emoji menangis.

Mengingat Bagaimana Biasanya Kami Mudik

Biasanya kami yang dari Temanggung menjadi yang pertama sampai di rumah Nenek. Rumah Nenek yang harus kami tempuh sekitar tujuh sampai delapan jam dari rumah di sini. Dulu, sebelum Bapak memiliki mobil pribadi, waktunya bisa lebih lama lagi karena kami tidak hanya menaiki satu kendaraan lalu sampai, tetapi harus naik turun beberapa bus (kecil dan besar) dan mobil angkutan umum plus ojek untuk sampai di rumah yang letaknya di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Ya, rumah kami di kampung halaman benar-benar berada jauh dari pusat kota. Jadi istilah mudik benar-benar saya artikan secara sebenarnya.

Semenjak Bapak sudah memiliki mobil sendiri, ceritanya berbeda. Kami yang kini bisa leluasa mengatur waktu sendiri dan tidak naik turun kendaraan berbeda lagi. 

Saat mudik waktu berangkat favorit kami adalah setelah salat subuh. Sengaja agar jalanan tidak terlalu ramai dan harapannya suasana juga tidak terlalu terik. Alhamdulilah, selama sepanjang perjalanan mudik, tidak pernah ada keluhan cuaca di jalan. 

Bahkan kami masih mampu mempertahankan untuk berpuasa, walau kami bisa digolongkan sebagai musafir yang diperbolehkan untuk tidak berpuasa karena jarak tempuh yang lebih dari 80 kilometer.

Bapak selalu menyetir mobil dengan santai. Maksudnya tidak dikejar waktu, asal sampai dengan selamat. Pom bensin dan masjid yang kami temukan di sepanjang jalan adalah dua tempat favorit kami singgah untuk beristirahat dan melakukan salat. Kalau sedang tidak diperbolehkan berpuasa, saya sering meminta Bapak untuk mampir membeli dawet ayu asli Banjarnegara. Sedaaap. 

Sepertinya memang kami lebih sering sengaja menghabiskan waktu di jalan sampai dekat waktu berbuka puasa. Jadi sampai di rumah Nenek, kami langsung bebas membayar semua lapar dan dahaga. HEHE.

Saat kami sampai rumah Nenek, itulah salah satu pertanda kedatangan yang lain. Biasanya akan disusul dengan saudara saya dari Jakarta -yang mengirim pesan pada saya tadi.

Yang tahu-tahu sewaktu saya terbangun dari sofa ruang tamu untuk sahur, suara saudara saya  sedang menceritakan apa yang terjadi di perjalanan sudah terdengar. 

Oya, di rumah Nenek saya memang lebih suka tidur di sofa. Sofa yang melegenda karena sudah ada sejak saya kecil. Anehnya, tidur di sofa Nenek tidak lalu membuat saya terjatuh di kala tidur. Ternyata saya anteng juga.

Pokoknya mudik selalu berhasil membuat keramaian di rumah Nenek. Kami yang heboh memanen jeruk di depan rumah. Kami yang berebut makan bakwan kala buka puasa. 

Kami yang mengantre untuk saling meminta maaf kala lebaran tiba. Untuk memberikan gambaran bagaimana ramainya kami ketika mudik di rumah Nenek, di bawah ini adalah momen lebaran tahun lalu yang sempat saya rekam tetapi diunggah oleh kakak di youtube-nya. Kangen.


Ramadan kali ini rupanya menyuruh saya untuk mengenang momen-momennya dulu. Membuat makin sadar bahwa menjadi mudik itu tidak sesederhana hanya pulang ke rumah Nenek lalu kembali lagi. Tiap mudik selalu ada cerita yang mengikutinya. Selalu ada kenangan yang minta dibawa juga sebagai oleh-olehnya.

Sulit memang menjadi tidak mudik. Apalagi mendengar kabar Nenek yang inginnya semua berkumpul. Anak-anaknya. Cucu-cucunya. Cicit-cicitnya.  Jadi ada sedih-sedihnya. Tetapi mau bagaimana lagi  jika keadaannya membuat tidak mudik adalah jalan terbaik yang diajarkan tahun ini?

Membuat bukan cuma saya yang tidak mudik.

Jika rindu adalah uang. 
Hari ini sedang banyak orang mendadak kaya raya. Gara-gara harus menabung. 
Jika rindu adalah hutang. 
Hari ini sedang banyak orang mendadak  murung. Gara-gara terus menggunung.  
Ini adalah perihal menunggu kepulangan. 
Yang kini menjadi pekerjaan banyak orang.  
Pulang untuk membagi tabungan.
Pulang untuk melunasi hutang.
Pulang pada rindu yang menggebu.
Rindu dalam bentuk kamu. 
---Mudik

Salam rindu,
Listhia H. Rahman

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kurma Selengkapnya
Lihat Kurma Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun