Mohon tunggu...
Lipul El Pupaka
Lipul El Pupaka Mohon Tunggu... Wiraswasta - lagi malas malasnya

ini bio belum diisi

Selanjutnya

Tutup

Puisi

Lelaki dan Batu Nisan

19 April 2014   18:16 Diperbarui: 23 Juni 2015   23:28 52
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

LELAKI DAN BATU NISAN Karya : Pena Ilusi "Aku sangat bersalah, terjang aku dan arahkan pistolmu ke keningku!" kata lelaki itu sembari bersimpuh dihadapan nisan yang kaku. "Aku sungguhlah bersalah, telah berpaling mengkhianatimu, ludahi dan hujani aku dengan pelor panas ke tubuhku!" lelaki itu terus merengek sampai berlutut menciumi kaki nisan yang kaku. Namun tegak nisan itu lebih gagah dari segala luka dan derita. Sekian lama ia berdarah-darah setiap bulan bahkan Ia telah merobek tubuhnya untuk lelaki itu dan membelah dirinya berkali-kali bagi kehadiran makhluk baru. "Kutuk aku dan apa sajakanlah aku !" gema histeris lelaki itu dalam tangisnya sembari berguling-guling di tanah merah memukul-mukuli dada dan kepalanya dan menghentak-tekakkan kakinya. Namun nisan itu tetap kaku: membisu kesenyapannya lebih mendera terasa hingga membuat lelaki itu semakin putus asa. Lalu Ia-pun bangkit sembari meraung sekeras-kerasnya berlari ke dapur, meraih pisau di atas meja lalu menikam-nikam lambungnya. Suara parau bercampur sedu-sedak tangisnya lelaki itu berkata; "Aku sangat bersalah, pantaslah aku bersimbah darah. Dan benamkan tubuhku dibawah nisanmu juga!".

==O.o.O== Bengkulu, 19 April 2014 Ilustasi : ININI

Mohon tunggu...

Lihat Konten Puisi Selengkapnya
Lihat Puisi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun