Dinobatkan dia dengan nama Prabu Guru Dewataprana,
dinobatkan (lagi) dia dengan nama Sri Baduga Maharaja Ratu Aji di Pakuan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata.
Dialah yang membuat parit (pertahanan) Pakuan.
Dia putera Rahiyang Dewa Niskala yang dipusarakan di Gunatiga, cucu Rahiyang Niskala Wastu Kancana yang dipusarakan ke Nusa Larang.
Dialah yang membuat tanda peringatan berupa gunung-gunungan, membuat undakan untuk hutan Samida, membuat Sahiyang Telaga Rena Mahawijaya (dibuat) dalam (tahun) Saka "Panca Pandawa Mengemban Bumi".
Ternyata Prasasti Batutulis ini dijaga oleh keluarga keturunan ke-9 Prabu Siliwangi, yaitu nenek Maemunah. Nenek Maemunah yang saat ini berusia 83 tahun tidak sendiri, ia menjaga Prasasti berdua dengan Pak Farid yang menjadi juru bicara dan juga membantu nenek Maemunah yang pendengarannya sudah mulai berkurang karena usia lansia.
Nenek Maemunah sendiri sudah menjaga prasasti sejak tahun 1980, dan sang nenek selalu membersihkan tempat ini setiap hari. Di dalam ruangan tidak hanya berdiri Prasasti Batutulis saja, namun ada batu besar panjang di sampingnya yaitu Lingga dan di seberang ruangan ada batu lagi lebih kecil yaitu tempat pelantikan raja. Menariknya juga kami bisa melihat ada silsilah leluhur Sumedang yang ada di belakang Prasasti batutulis. Di halaman juga kami melihat ada makan jaman dulu yang besar dan ditumpuk oleh batu-batu.
Menyusuri rel kereta api menuju ke Pemandian Cipulus
Pertualangan selanjutnya telah menanti, kami pamit ke Pak Farid dan Nenek Maemunah untuk melanjutkan perjalanan. Tujuan selanjutnya adalah Pemandian Cipulus yang terletak tidak jauh dari lokasi Prasasti Batutulis. Kali ini medan yang ditempuh sangat menarik, karena kami harus melewati jalur singkat yang agak sedikit menantang dengan melintasi area dengan semak dan pepohonan yang cukup terjal dan licin. Lokasinya melewati area konstruksi dan uniknya lagi kita melewati dua jalur rel kereta api.
Perjalanan menyusuri rel kereta api mulanya membuat kami was-was, barangkali takutnya ada kereta melintas. Namun setelah menanyakan ke warga sekitar, dari kedua jalur yang ada di sana, hanya satu yang masih aktif.
Ini kali pertama saya melalui jalur rek kereta api dengan berjalan kaki, rasanya seru juga ya, melintasi jalur kereta non aktif bersama teman-teman. Sepanjang perjalanan kami banyak bercerita dan bersenda gurau, sehingga sangat menikmati berjalan kaki susur rel kereta api. Sampai akhirnya kita pun sampai di lokasi Pemandian Cipulus.