Bukannya ceria menyambut Lebaran, sejak semalam Laras malah uring-uringan. Macam-macam urusan yang tampak sepele sontak berubah menjengkelkan.
Rasanya baru saja berlalu gerutuannya mengenai baju baru yang nggak rapi meskipun telah disetrika berkali-kali. Eh, kini sudah beralih lagi sumber kejengkelannya. Kali ini, gadis yang baru menjalani semester kedua masa kuliah itu mengeluhkan sandalnya yang raib sebelah.
Entah siapa tidak punya pekerjaan, malah ngerjain anak yang lagi nggak genah itu. Mungkin juga kucing milik tetangga depan rumah.
Memang, Bulik Siti memelihara beberapa ekor kucing dengan berbagai rupa. Aku tak hafal jenis-jenis kucing miliknya, karena aku bukan penggemar binatang.
Lagipula, untuk apa juga aku mesti menelisik macam-macam kucing milik orang lain. Mikirin adik bungsu yang sedang belagu saja sudah bikin pusing kepala.
Anak sableng itu sedang bermasalah dengan sesuatu. Namun, tak ada satu pun anggota keluarga yang tahu.
Anaknya sendiri terus membisu saat ditanya apa gerangan urusan kusut yang telah membelenggu hati dan pikirannya.
Kalau soal pertanyaan kapan nikah, enggak ada, kok, orang usil nanyain ke dia. Â Lagian, Laras masih unyu.
Jika ada yang usil melontarkan pertanyaan "sadis" itu, tentu saja aku lebih pantas menjadi korbannya. Namun, jangankan Laras, aku sendiri tidak diganggu dengan urusan sensi itu.
Apa mungkin urusan kuliah yang telah mengganggu ketenangan hidupnya? Siapa tahu, namanya mahasiswi baru, belum bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan kampus atau sekitaran tempat kosnya di Kota Gudeg sana.
"Eh, kamu ini, ya. Udah dibilangin tetep ngeyel terus!"