[caption caption="Ikan Uceng hidup di sungai yang berarus cukup deras dengan dasar bebatuan ǀ Sumber Gambar: cumbri.com"][/caption]Ikan yang bagaimakah ikan Uceng itu? Mungkin diantara kita banyak yang belum familier dengan jenis ikan ini. Namun untuk masyarakat di daerah Eks Karesidenan Kedu dan Banyumas (Jawa Tengah), ikan ini sangat dikenal, karena populasinya ada di sungai-sungai di daerah tersebut dan rasanya yang sangat enak (gurih). Selain dimanfaatkan untuk ikan konsumsi sebagai sumber protein hewani, ikan ini juga diperdagangkan sebagai ikan hias.
Dalam ilmu biologi, nama ilmiah ikan Uceng adalah Nemacheilus fasciatus. Ikan liar ini hidup di sungai yang airnya mengalir agak deras dengan dasar bebatuan sebagai tempat perlindungannya. Ukuran tubuhnya kecil, panjang maksimalnya hanya mencapai 10 cm saja. Ikan Uceng merupakan salah satu jenis ikan yang tahan hidup pada kandungan oksigen rendah dan kekeruhan air yang tinggi.
[caption caption="Ikan Uceng (Nemacheilus fasciatus) ǀ Sumber Gambar: fishbase.org"]
Oleh karena berlidung di bebatuan, ikan ini cukup sulit untuk ditangkap. Biasanya masyarakat sekitar sungai menangkapnya dengan menggunakan jaring, pancing, dan celik (anyaman bambu mirip bubu tetapi ukurannya lebih kecil).
[caption caption="Celik yang mirip bubu dengan ukuran kecil untuk menangkap Uceng ǀ Sumber Gambar: pesonaperkasa.blogspot.co.id"]
Akan tetapi, sekarang ikan tersebut sudah semakin jarang dan sulit ditemukan. Lagi-lagi penyebabnya adalah kualitas lingkungan dan air sungai yang menurun, dan karena rasanya yang enak sehingga digemari konsumen, mengakibatkan tingkat penangkapannya tinggi. Ikan Uceng selama ini belum bisa dibudidayakan, sehingga permintaannya hanya dipenuhi dengan mengandalkan hasil tangkapan dari sungai.
Namun jangan kecewa dulu, karena ada kabar baik dari Temanggung. Balai Penelitian dan Pengembangan Budi Daya Ikan Air Tawar Bogor, bekerja sama dengan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Temanggung-Jawa Tengah, berhasil memijahkan ikan Uceng secara buatan.
Selama ini pemijahan ikan dari famili Nemacheilidae secara buatan belum ada yang berhasil. Kemungkinan penelitian ini adalah yang pertama kali berhasil melakukan pemijahan atau pelepasan telur dan sperma untuk pembuahan secara buatan di Temanggung.
Induk ikan Uceng diperoleh dengan menangka dari sungai, kemudian diadaptasikan di luar habitat aslinya, yaitu di akuarium dengan memodifikasi lingkungan seperti di alamnya. Setelah dua bulan, Uceng sudah bisa merespon terhadap pemberian pakan buatan dan ada yang sudah matang gonad, kemudian dicoba untuk reproduksi secara buatan.
Induk Uceng disuntik hormon untuk mempercepat proses ovulasi atau pengeluaran telur. Dalam waktu sekitar tujuh hingga delapan jam kemudian sudah dapat mengeluarkan telur. Induk yang belum memijah secara alami, dilakukan pemijahan artifisial, yaitu induk betina dilakukan pengurutan untuk mengeluarkan telur, sedangkan yang jantan diambil spermanya, kemudian dilakukan pembuahan secara buatan.
Satu induk betina Uceng bisa menghasilkan sekitar 700 butir telur, dan dari hasil penetasannya menunjukkan daya tetas yang bagus.
Hasil penetasan ini masih dalam skala penelitian, tetapi ini merupakan pembuka jalan untuk pengembangan selanjutnya. Paling tidak dalam waktu dekat ada harapan pengembangan ikan Uceng ini, yaitu dalam hal :
- Kemampuan penguasaan teknologi perbenihan Uceng, sehingga akan dapat diproduksi benih yang selama ini tidak dapat kita hasilkan.
- Benih yang dihasilkan dapat digunakan untuk penebaran di perairan umum (sungai) untuk meningkatkan populasinya di alam, dan untuk pengembangan usaha budidaya ikan Uceng.
- Usaha budidaya ikan Uceng akan dapat dikembangkan, baik itu berupa usaha perbenihan, pendederan dan pembesaran.
- Produksi dan produktivitas ikan Uceng akan dapat ditingkatkan, tidak hanya tergantung pada pengkapan dari alam (sungai), yang semakin lama produksinya cenderung semakin menurun.
Dengan demikian, para penggemar ikan Uceng nantinya tidak lagi kesulitan dalam memperoleh ikan Uceng yang ketersediaannya lagi tergantung pada alam dan musim,
Semoga.
Salam dari saya.
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H