Selanjutnya perempuan terbang di angkasa. Bahkan pada perang dunia ke 2, perempuan menjadi bagian dari angkatan perang. Biasanya mereka menjadi bagian dari tim kesehatan dan pelayanan publik.
Namun pada 1970 perempuan pernah dilarang menjadi pilot. Ini karena adanya bias yang mengasumsikan pekerjaan ini pekerjaan berat dan pekerjaan berat tentu diperuntukkan bagi laki-laki. Namun pada tahun 1970 itu juga perempuan menjadi bagian dari penerbang angkatan perang di berbagai negara.
Di Amerika, jumlah perempuan yang menjadi pilot adalah 700 orang pada 1980. Mereka tercantum pada Women of Aviation Worldwide Week. Sementara di India presentase perempuan sebagai penerbang adalah 11,6 %. Di tingkat global terdapat 3% perempuan penerbang.
Data lain menunjukkan bahwa prosentasi perempuan pilot di Amerika adalah 7 % dari sekitar 600.000 pilot yang ada. Mereka mendapatkan sertifikat dari the United States Federal Aviation Administration. Data ini diperoleh dari Active Civil Airmen Statistics yang terbit 2018.
Kapten McCullough, pensiunan penerbang, mengatakan bahwa ketika seorang perempuan bekerja dengan baik dan menjadi panutan, ini akan membawa dampak besar bagi perempuan lainnya. Organisasi the International Society of Women Airline Pilots merilis data bahwa total dari perempuan penerbang di dunia adalah sekitar 7.400 orang. Angka ini adalah 5.2% dari jumlah global. Meeka mengatakan bahwa kalau presentase perempuan tidak mencapai 20% ada di sektor ini, masyarakat tidak akan melihat peran perempuan.
Di bawah ini adalah video wawancara Deddy Corbuzier dengan seorang perempuan pilot. Satu hal, coba lihat betapa perempuan pilot diberi Deddy Corbuzier pertanyaan "menekan: dan melecehkan dalam  suatu wawancara dengan millenial penerbang. Rasanya Deddy perlu belajar memberi apresiasi bahwa perempuan bukan hanya pajangan.Â
Studi yang dilakukan oleh Dukes RL et ALL yang berjudul "Stereotypes of pilots and apprehension about flying with them: a study of commercial aviation scenarios", mendapatkan temuan bahwa pada umumnya penumpang memiliki bias dan stereotip kurang positif pada pilot perempuan dibandingkan laki-laki. Beberapa responden mempertimbangkan akan batalkan terbang bila tshu pilotnya petempuan. Namun terbukti secara signifikan bahwa keraguan dan bias serta stereotip itu pada umumnya tak ada hubungannya dengan faktor kemampuan dan ketrampilan, melainkan oleh bias karena budaya.
Rasanya turut bangga (dan ada surprais) bila saya duduk di kursi penumpang suatu penerbangan dan kapten pilot yang menyapa adalah perempuan.Â
Nah, mengapa ragu, Millenial? Jadilah perempuan penerbang handal kita.Â
Pustaka : Satu; Dua; Tiga; Empat; Lima;  Enam; Tujuh ; Delapan
Baca konten-konten menarik Kompasiana langsung dari smartphone kamu. Follow channel WhatsApp Kompasiana sekarang di sini: https://whatsapp.com/channel/0029VaYjYaL4Spk7WflFYJ2H