Beberapa hari terakhir ini, pengalaman saya mengakses halaman halaman Kompasiana tidaklah seperti biasanya. Banyak iklan digital di layar. Gadget saya yang memang tidak baru lalu mengalami kemacetan. Ditambah, koneksi internet di desa dan banyak tempat publik di Jakartapun melambat. Lengkap sudah.Â
Pengalaman saya berselancar sebagai Kompasianer baru jalan 3 bulan ini. Ingusanlah! Â Pada awalnya, semua okay. Akhir Akhir ini, setiap kali saya membuka Kompasiana, saya perlu waktu lebih dari 5 detik menunggu habis tayangan video iklan film. Tayangan ini otomatis muncul melalui 'autoplay' dan berputar di depan mata. Â
Ketika saya ada di anjungan bandara, saya harus menahan malu dari tetangga karena di layar kaca laptop saya terpampang iklan deodoran dengan gambar ketiak perempuan yang dijanjikan tetap putih melewati mata. Ini bukan guyon. Serius!
Tentu, dalam bisnis, makin banyak iklan, adalah indikasi positif. Artinya, Kompasiana, makin ramai pembaca. Mungkin juga ini terjadi khusus di masa masa jelang Pemilu. Peningkatan jumlah mata yang melintasi Kompasiana sudah tentu jadi pertimbangan nomor 1 dari pemasang iklan.Entahlah. Namun, saya memang berharap agar pengaturannya lebih baik dan tidak mengganggu.
Nah, bagaimana dengan hal teknis di sana sini, yang mungkin mempengaruhi aksesibilitas kita? Â Teman teman Kompasianer merasakan ini jugakah? Atau hanya persoalan saya sendiri yang katrok?Â
Tulisan ini tidak hendak mengkritisi Kompasiana. Boleh dong berbagi rasa? Siapa tahu, pilihan metode dan pengaturan iklan di K menjadi lebih nyaman bagi kita semua?Â
Saya akhirnya membaca beberapa artikel. Tulisan Lauren Nettles (2018) tentang studi menarik untuk saya simak lebih lama. Ia berbagi hasil studi. Ini melegakan. Â Bahwa saya katrok, mungkin tetap saja. Tapi saya tidak sendiri. Hanya saja saya tidak sepenuhnya benar. Dikatakan bahwa 83% memang setuju dengan pendapat saya, tetapi lebih tepatnya, mereka tidak suka iklan yang buruk.
Secara umum, kita lihat hasil studi di akhir tahun 2018 yang disampaikan oleh Lauren Nettles ini:Â
- 91% pembaca melihat iklan saat ini lebih mengganggu dibandingkan dengan 2-3 tahun yang lalu;
- 87% pembaca katakan lebih banyak iklan daripada 2-3 tahun yang lalu
- 79% pembaca merasa mereka diikuti iklan yang tidak tepat sasaran
Nah, ada pula iklan iklan yang pembaca merasa 'OK". Ini adalah iklan TV (9%), iklan sponsor LinkedIn (9%), Iklan sponsor (13%), sponsor (13%), paparan iklan Online (13%), iklan Email (15%), illan video online (25%). Â Bahkan diakui beberapa iklan digital amat efektif.
SEPERTI APA IKLAN YANG PALING MERESAHKAN?
- autoplay video yang mewajibkan 5 detik waktu kita untuk berhenti
- terlalu banyak iklan berulang 'retargeting'
- iklan yang berkesan 'bodoh'. Kita tak kenal bintangnya dan tidak kenal produknya
- iklan yang dibuat serampangan, tidak professional.Â
- iklan yang memaksa kita mengalami kecelakaan untuk meng'klik' iklan yang posisinya tepat di jari kita.
Pembaca memang merasa terganggu dengan iklan. 64% mengatakan hal itu. Juga 54% mengatakan bahwa iklan menginterupsi kerja mereka. Â Karena iklan mengikuti kita, 39% pembaca merasa keamanannya terganggu. Yang jelas, 36% pembaca mengelihkan penggunaan paket yang meningkat. Soal privasi dilaporkan oleh 32% pembaca, selain merasa diperangkap untuk berkontribusi pada bisnis yang mereka tidak merasa perlu. Tentu saja terdapat 8% pembaca yang secara ideologis tidak suka dengan iklan iklan ini.Â
Gangguan iklan 'pop up' sudah pada titik yang tinggi. Tidak kurang, Ethan Zuckerman, penemu iklan 'pop up' bahkan menyampaikan permintaan maaf secara publik. 'Saya menuliskan kode untuk bisa meluncurkan iklan pada window', Saya mohon maaf'. Repotnya, sekitar 1/3 pembaca merasa diperangkap untuk menonton iklan. Untunglah, sudah ada pengaturan agar iklan iklan video tidak begitu saja muncul. Kita bisa lihat di sini .Â
Kalau hanya saya yang merasa ada masalah, mungkin saya memang sangat tertinggal.Â
Pustaka : 1)Â Penemu Pop Up Minta Maaf; 2) Video Pop Up Ganggu, 3) Cara cegah iklan video pop upÂ
Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI