Bu guru mengangguk dan cekikikan dengan mamah saya.
Seminggu, dua minggu, sebulan, dua bulan...mereka menunggu saya bosan, dan lelah.. sampai pas saatnya caturwulan habis, mereka yang keburu bosan menunggu, saya masih eksis.
Saya tetap semangat meski 'berbeda' dari yang lain. Saya paling mungil sendiri, pake baju TK/bebas sendiri, paling muda sendiri, dan saya jadi 'anak bawang' sendiri.
Dulu, di SD Negeri daerah saya, ada istilah 'anak bawang', yaitu anak sekolah yang belum punya Nomor Induk, alias belum terdaftar di sekolah. Semacam murid bayangan kali ya.. Â
Walaupun mengikuti pelajaran dan ujian sama-sama, tapi pas bagi rapot harus rela cuma dibagi selembar kertas fotocopy-an, semacam rapot bayangan juga..
Sampai kelas tiga, saya baru dipanggil Pak Kepala Sekolah, ada semacam wawancara (gak pakai psikolog macam sekolah jaman sekarang). Saya cuma diberi pertanyaan ringan, sampai kesimpulannya saya bisa dan boleh lanjut sekolah secara resmi.
Ya udah deh, besoknya saya punya Nomor Induk. Bulan depannya saya punya kartu buat bayar SPP, CAWU berikutnya saya punya buku rapot beneran...yeee.
Begitulah saya mengawali kiprah kependidikan saya, mudah-mudahan tetap berkah ya meski berawal menjadi murid ilegal.. Wkwk.
Kalau dipikir-pikir sekarang, saya juga nggak paham kenapa se-semangat itu masuk sekolah. Masa iya waktu itu punya cita-cita pengen cepet kuliah, kerja, dan nikah... Kayaknya gak segitunya.
Coba kalau semangat ini terus melekat sampai sekarang saya berangkat kerja. Ukh, bisa bosen dapet penghargaan karyawan teladan terus ini. Tapi lumayan sih, minimal saya masih pernah dapat penghargaan waktu wisuda di kampus, sebagai : Wisudawan Termuda.
Ha'elaahh, dihargai karena adu usia, bukan adu otak? hff.