Mohon tunggu...
Lazarus Djami
Lazarus Djami Mohon Tunggu... Nelayan - Penulis
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Petani dari Maujawa

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Injil adalah Kebenaran yang Hakiki Bukan Adat Istiadat Nenek Moyang

1 November 2022   14:02 Diperbarui: 1 November 2022   14:10 240
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

INJIL ADALAH KEBENARAN YANG HAKIKI BUKAN ADAT ISTIADAT NENEK MOYANG

Dariku, seorang yang memberikan sedikit pemikiran, bukan karena kepintaran melebihi yang lain, melainkan kemampuan oleh Yesus Kristus, yang telah memberiku semangat dalam menulis tentang pokok penting ini, untuk semua saudara yang ada dan kepada seluruh sidang Gereja Bebas Sumba Timur.

Aku tahu bahwa kamu telah dimerdekakan oleh Kristus dan juga telah diajar dan sudah menerima kebenaran itu, yang kini kamu telah menyakininya.

Aku heran, bahwa masih banyak yang belum mengatahui dan bahkan berbalik dari pada kebenaran itu. Memang kasih karunia Kristus telah memanggil kita, namun kini ada sebagian orang telah terpesona dan mengikuti suatu yang dianggap itu kebenaran, yang sebenarnya itu bukanlah kebenaran. Hanya ada orang yang mengacaukan dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan kebenaran Injil.

Saya berharap, sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu sesuatu yang mengenakkan telingamu, namun yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.

Jadi bagaimana sekarang: Adakah kamu setia pada kebenaran itu ataukah telah bergeser darinya? Sebab itu aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, dahulu hidup kita memang sebagai orang yang sangat rajin memelihara adat istiadat nenek moyang kita; tetapi kini Tuhan yang telah memilih kita untuk hidup dalam kebenaran itu.

Apa yang akan kutuliskan nanti kepadamu ini benar, dan aku tidak berdusta. Tetapi rupanya ada banyak orang dari anggota sidang Tuhan di Bereja Bebas pun belum mengerti tentang kebenaran yang sudah diajarkan dalam gereja ini. Mereka memang mendengar tentang kebenaran itu, mereka telah mengikutinya, dan kepada mereka telah dibentangkan kebenaran itu -- dalam berbagai cara; kendatipun demikian, ada banyak yang belum juga mengerti.

Sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan. Tentu, ada desakan dari saudara-saudara palsu yang menyusup masuk, yaitu mereka yang menyelundup ke dalam untuk menghadang Kebenaran kita yang telah kita miliki di dalam Kristus Yesus.

Tetapi sesaatpun kami tidak mau mundur dan tunduk kepada mereka, agar kebenaran Injil dapat tinggal tetap dalam Gereja ini dan pada kita. Dan mengenai mereka yang dianggap terpandang itu, itu tidak penting bagi kita, sebaliknya, setelah mereka melihat bahwa kebenaran Injil dinyatakan dalam gereja ini, mereka akan malu.

Tuhan telah memberikan kekuatan kepada kita untuk menyaksikan kebenaran itu. Jangan menurut kelahiran engkau adalah anggota Gereja ini, tetapi kamu telah melihat dan tahu apa itu kebenaran.

Kamu juga tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan karena melakukan aturan adat-istiadat, hanya oleh percaya di dalam Kristus Yesus. Teruslah berusaha untuk berkenan kepada Kristus yang nyata dari perilaku kita sebagai orang yang telah dibenarkan. Mari kita saling membangun apa yang hampir hilang.

Aku tahu, oleh kebenaran itu kita akan dimusuhi, dan itu menjadi salib bagi kita. Namun hidup ini, bukan lagi kita sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam kita.

Sayanglah, masih ada banyak juga anggota-anggota Gereja ini yang tidak tahu tempat pijakannya, sehingga sedikit kasar diucapkan, hai orang-orang Gereja Bebas terlalu bodohkah kamu, sehingga kamu lamban dan sampai kini tidak memahami arti kebanaran itu? Siapakah yang telah mempesona kamu?

Apakah dengan mengatakan kebenaran kepadamu aku telah menjadi musuhmu? Waspadalah terhadap mereka selaku musuh kebenaran dengan giat berusaha untuk menarik kamu, tetapi tidak dengan tulus hati, supaya kamu dengan giat mengikuti mereka bukan pada kebenaran lagi.

Hai adik-adikku, karena kamu aku sangat menderita bagaimana kebenaran itu disampaikan kepadamu, agar menjadi nyata di dalam kamu. Betapa rinduku untuk berada di antara kamu, menjelaskan, mengajarkan serta dapat berbicara dengan kamu. Semoga aku tidak habis akal menghadapi kamu.

Bukankah Yesus Kristus yang disalibkan itu telah dilukiskan dengan terang di depanmu? Hanya dengan cara ini hendak mengetahui dari padamu: Adakah kamu telah menerima Roh untuk hidup dalam kebanaran itu, ataukah lebih mencintai untuk melakukan hukum Adat-Istiadat nenek moyangmu? Adakah kamu sebodoh itu? Harapku tidak demikian, sebab kamu telah menerima dan memulainya dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging? Sia-siakah semua yang telah kamu terima, yang kamu tahu selama ini? Masakan sia-sia!

Jadi bagaimana sekarang, apakah kamu dengan berlimpah-limpahnya melakukan kebenaran itu? Kristus telah menebus kita dari kutukan Adat-istiadat yang tidak berkenan kepada Allah, supaya kita hidup dalam kasih karunia. Walau kita tahu bahwa hukum Adat mengatur tatanan sosial kita, ya memang benar adanya. Tetapi sekarang, kebenaran itu telah datang, karena itu kita tidak berada lagi di bawah pengawasan Adat, sebab kita adalah anak-anak Allah oleh percaya di dalam Yesus Kristus.

Aku yakin tentang kamu, bahwa kamu tidak mempunyai pendirian lain dari pada pendirian ini. Tetapi barangsiapa yang mengacaukan kamu, ia akan menanggung hukumannya, siapapun juga dia.

---------------------------------LDJ------------------------------------

Follow Instagram @kompasianacom juga Tiktok @kompasiana biar nggak ketinggalan event seru komunitas dan tips dapat cuan dari Kompasiana
Baca juga cerita inspiratif langsung dari smartphone kamu dengan bergabung di WhatsApp Channel Kompasiana di SINI

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun