Sayangku, Ayah Ingin Dikremasi
Ayah Calvin bergerak gelisah. Seorang suster berbadan mungil mencabut selang dari lengannya. Bunyi langkah kaki disusul tutup koper yang dibuka menandakan kesibukan di paviliun rumah sakit. Jose mondar-mandir di sekeliling ruangan, mengemasi barang-barang ayahnya.
"Jose Sayang, kamu bolos sekolah berhari-hari. Memangnya nggak takut ketinggalan pelajaran?"
Suara lembut sang ayah membuat gerakan tangannya terhenti. Jose menggigit bibir, masih merasakan geletar kesedihan tiap kali pertanyaan semacam itu dilontarkan.
"Nggak apa-apa. Jose mau berhenti sekolah aja, biar bisa jaga Ayah terus," ujarnya tanpa memandang mata Ayah Calvin.
Rona kecewa tertinggal di seraut wajah tampan itu. Paras yang belum dihinggapi keriput dan tetap awet muda. Ayah Calvin tak senang mendengar perkataan anak tunggalnya.
"Nope. Jangan berhenti sekolah. Kamu harus tetap belajar. Minimal homeschooling kalau kamu memang ingin berhenti dari sekolah formal. Ayah yang akan mengajarimu."
Seperti deja vu, Jose terseret lautan kenangan. Kenangan saat ia menjalani homeschooling selama beberapa waktu. Ayah Calvin sendirilah yang turun tangan menjadi guru pendampingnya.
"Iya...Ayah." Jose menyahut, tenggorokannya tercekat.
Kecewa berganti senyuman. Namun, senyum itu sekejap pudar. Ayah Calvin kembali gelisah. Tak henti ia melayangkan pandang ke jendela.
Menangkap gelagat ayahnya, Jose menyudahi kegiatan berkemas. Ia berjalan ke dekat ranjang. Lembut disentuhnya jemari Ayah Calvin. Ditanyakannya penyebab kegelisahan pria yang lahir di awal Desember itu.