Celaka, Clara keceplosan. Ia tak sadar telah menyebut nama klien istimewanya. Calvin Wan, pemilik nama dan wajah itu berkelebat di pelupuk mata.
"Calvin? Siapa itu?" tanya Intan tertarik. Ia tak lagi merasa takut. Naluri gosipnya bangkit. Selama ini, Clara sangat tertutup soal love and relationship. Berbeda dengan Sarah yang sedikit lebih terbuka. Silvi pun sama saja: tertutup.
"Ah sudahlah! Lebih baik kamu pergi! Aku sibuk!" usir Clara.
Begitu Intan menginjakkan kaki di luar ruangan, Clara membanting pintu tepat di depan mukanya. Kesal dan sakit hatinya. Selera makannya hilang. Belum sempat ia duduk kembali, pintu ruangannya kembali diketuk seseorang. Ketukannya halus berirama.
"Kalau ada yang datang ke sini hanya untuk menghina adikku, lebih baik pergi saja sana!" Clara meneriaki si pengetuk pintu.
Terdengar seseorang tertawa tertahan. Sedetik kemudian pintu terbuka, dan masuklah sesosok gadis tinggi semampai berambut hitam dan berkulit putih.
"Hai Chinese," Ia melempar senyum, menatap heran kekacauan kecil di lantai tepat di bawah kakinya.
"Raissa? Raissa Haryati Ivanov?"
Tanpa membuang waktu lagi, Clara berlari ke pelukan sahabat lamanya. Memeluknya erat-erat. Gadis berdarah campuran Jawa-Rusia itu balas memeluk Clara. Keduanya saling melepas rindu.
"Kapan sampai di Indo?" tanya Clara cerah.
"Tadi pagi. Aku pulang sebentar ke rumah. Taruh barang-barang, ketemu Mama, terus keluar lagi. Biasa, nyobain Indonesian food. Kangen..."